Penghargaan tersebut diberikan pada pewaris tunggal yang juga anak tunggal sang maestro, Rachmi Aziah (66), yang kini tinggal di sebuah rumah kontrakan di Perum Bappenas A12, RT 1 RW 6, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Sawangan, Kota Depok.
"Kita setiap hari ngomong bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Tapi kita lihat sekarang ada ajudan Jenderal Sudirman di Jawa sana yang jadi pedagang rokok, dan kini anak dari pahlawan nasional, Ismail Marzuki, yang hidup disebuah rumah kontrakan dengan keseharian menjual es pada anak-anak," jelas Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, dalam sambutannya, Senin (15/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Jangan jadi bangsa yang durhaka pada pahlawan dan leluhur," jelas Dedi kembali.
Dedi mengungkapkan, penghargaan tersebut diberikan pada sang maestro karena telah menciptakan karya-karya fenomenal yang terkenang sejak dulu hingga sekarang. Bahkan lirik lagu yang heroik pun berhasil menginspirasi para pemuda untuk terus memperjuangkan tanah air Indonesia.
"Sehingga berangkat dari situ, ada spirit kebudayaan yang dianugerahkan untuk keluarga pahlawan kita Pak Ismail Marzuki. Dalam hal ini diberikan pada putri tunggalnya," ucapnya.
(Baca juga: Melihat Kehidupan Anak Pahlawan Nasional Ismail Marzuki yang Serba Pas-pasan)
Sementara itu usai acara anak tunggal sang maestro, Rachmi Aziah (66), mengaku senang dan tak menyangka bisa mendapat penghargaan dari Pemkab Purwakarta.
"Tentu sangat berterima kasih pada Pak Dedi selaku Bupati Purwakarta. Tak disangka dan dinyana bapak (Ismail Marzuki) mendapat penghargaan seperti ini. Ini sebuah anugerah dan kehormatan bagi keluarga," tuturnya.
Selain diberi pelakat Anugerah Budaya 2016, pihak keluarga pun mendapat apresiasi berupa uang Rp 50 juta yang diberikan secara simbolis oleh Bupati Dedi dihadapan seluruh tamu undangan dan muspida yang hadir dalam acara penyerahan bendera pusaka milik Pemkab Purwakarta sekaligus pengukuhan anggota paskibra dan pengiring yang akan bertugas pada upacara Hari Kemerdekaan, Rabu 17 Agustus mendatang.
(dnu/dnu)












































