Perjalanan Anies dan Jokowi dari Pilpres Hingga Reshuffle Menteri

Menyapa Mantan Menteri

Perjalanan Anies dan Jokowi dari Pilpres Hingga Reshuffle Menteri

Ahmad Toriq - detikNews
Senin, 15 Agu 2016 16:24 WIB
Foto: dok. detikcom
Foto: dok. detikcom
Jakarta - Keputusan Presiden Jokowi mencopot Anies Baswedan dari kursi Mendikbud terbilang mengejutkan. Banyak yang tak menyangka, Anies yang menjadi bagian dari tim pemenangan Jokowi-JK di Pilpres 2014 akan diberhentikan dari posisi menteri.

Anies Baswedan memang bukan ujug-ujug jadi menteri di Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Jokowi. Penggagas gerakan Indonesia Mengajar ini merupakan juru bicara tim pemenangan Jokowi-JK di Pilpres 2014. Setelah Jokowi menang Pilpres, Anies lalu diminta menjadi staf deputi kantor Transisi Jokowi-JK.

Dalam wawancara khusus dengan detikcom, Selasa (9/8/2016), Anies menuturkan awal cerita dia dipilih jadi jubir tim Jokowi-JK. Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini tampak bersemangat menceritakan kelanjutan perjalanan politiknya setelah selesai mengikuti konvensi capres Partai Demokrat. Posisi duduknya diubah tak lagi bersandar, membuatnya terlihat menjadi lebih antusias saat bicara soal Jokowi.

"Sekitar bulan Mei (2014), saya sedang di rumah, saya ditelepon. Andi Widjajanto yang nelepon, tanya, "Mas, ada waktu bicara?" Oke, bisa. Pas itu ternyata, "Mas, sebentar, Mas", pada waktu itu Pak Jokowi nggak bisa bicara," tutur Anies.

Anies Baswedan dan Jokowi di masa kampanye Pilpres 2014 (dok. detikcom)

Andi lalu menyudahi telepon. Anies menduga mendadak Jokowi ada urusan sehingga tak jadi bicara dengannya. Dia mengira akan segera ditelepon lagi, namun ternyata tak ada panggilan masuk hingga beberapa jam setelahnya. Telepon penting itu baru datang di malam hari, dimulai oleh Andi, lalu diserahkan ke Jokowi.

"Di situ Pak Jokowi bicara, "Pak Anies apa kabar?" Ya gitulah, baik, "Pak Anies bantu saya untuk di kampanye". Baik, Pak, siap. Apa yang bisa saya bantu? "Bantu-bantu juru bicaralah di tim kita". Oke. Singkat. Jadi nggak ada yang khusus. Baik, Pak, nanti saya follow up sama Andi," ujar Anies menceritakan percakapannya dengan Jokowi.

Tak lama setelah telepon dari Jokowi, JK juga menelepon. Isinya sama, meminta bantuan ke Anies untuk jadi juru bicara.

Anies menceritakan pengalamannya menemani Jokowi di Pilpres 2014 (Rengga/detikcom)

Usai dua telepon itu, keesokan harinya Anies menemui Jokowi dan JK. Anies diminta menempel ke manapun Jokowi pergi. Mulai dari titik itu, Anies terjun total membantu kampanye Jokowi.

"Jadi kemudian mulai tuh soal visi misi, nyusun segala, mulai tuh. Jadi saya kemudian all out," ujarnya masih tampak antusias.

Jika mendengar itu, mungkin akan terasa ganjil terkait cepatnya Anies menerima pinangan Jokowi-JK. Ayah 4 anak ini menjelaskan, sejak awal dia memang mendukung Jokowi. Sehingga, ketika tawaran itu datang, seperti keinginan yang menjadi kenyataan.

"Pak Jokowi ini orang baik. Saya selalu katakan ini orang baik, karena itu saya mau bantu orang baik. Dan kalau ada orang baik maju, tanggung jawab orang baik lainnya, kita-kita semua ya membantu, jangan diam. Karena saya sering mengatakan, orang baik itu kalah bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena banyaknya orang baik lain memilih diam, karena itu yuk diewangi," kata pria yang meraih gelar sarjana ilmu ekonomi di Universitas Gajah Mada ini.

Setelah masuk ke tim Jokowi, Anies makin yakin pilihannya tak salah. Karena ternyata isi tim Jokowi-JK adalah teman-teman seperjuangannya. Anies lalu total berkontribusi, menyumbang pikiran, tulisan-tulisan, dan mendampingi ke manapun Jokowi pergi.

"Pas kami lagi sama-sama itu kesempatan ngobrol, diskusi. Wah itu, naik kijang pagi-pagi keliling. Di mana ada beliau, di situ ada saya," ujar Anies sambil tersenyum, terlihat makin antusias.

Cucu pejuang kemerdekaan AR Baswedan ini terasa kian semangat saat menuturkan momen-momen mengantar Jokowi mendaftar ke KPU. Saat itu, tim Jokowi-JK berencana naik bajaj mendaftar ke KPU. Anies merasa kecil hati di tengah penggede partai yang mengiringi, namun ternyata dia yang dicari Jokowi untuk mendampingi.

"Penggede-penggede partai itu ada semua, kami kumpul di Taman Menteng, semuanya ada di situ. Saya ini juga hadir di antara semua itu, lalu iring-iringan ke KPU, jalan. Beliau di depan diarak banyak orang. Ya saya sebagai bagian dari yang iring-iringan itu masuk, di sana sudah banyak sekali bajaj. Jadi saya duduk di salah satu bajaj kosong," tutur Anies.

"Terus tahu-tahu, "Pak Anies mana, Pak Anies mana," nyari-nyari. "Nih di sini nih, Pak Anies". Di sini Pak Anies". Jadi rame kan itu. "Pak dicariin, duduk sama Pak Jokowi. Jadi saya pindah dari bajaj yang saya sudah duduk, pindah naik ke (bajaj bersama Pak Jokowi)," imbuh mantan Rektor Universitas Paramadina ini.

dok. detikcom

Kemudian cerita setelah itu sudah banyak diketahui, Jokowi-JK menang Pilpres 2014. Anies lalu diminta masuk ke kantor transisi, menjadi staf. Dalam pembentukan Kabinet Kerja, Anies diminta menjadi Mendikbud, dan dilantik pada 27 Oktober 2014.

21 Bulan setelah puncak cerita manis itu, cerita berubah, Anies diberhentikan. Presiden Jokowi beralasan menyesuaikan perkembangan. Sakit hati kah Anies Baswedan?

"Kampanye itu mendorong orang baik, dan kita bersyukur beliau jadi Presiden. Kan kita tidak berkampanye saya jadi menteri. Kita berkampanye itu beliau jadi Presiden. lalu Presiden itu memiliki hak a b c d e f g. Jadi keputusan mengganti ya keputusan politik, dan saya harus hormati itu. Jadi tidak bisa saya mengatkaan it's about me, saya dulu ikut jadi saya berhak untuk 5 tahun, tidak! Sepenuhnya hak presiden," jawab Anies mantap.

Pria yang juga menggagas gerakan TurunTangan ini mengatakan, Indonesia butuh orang yang memikirkan negara. Dia tak perlu protes atau sakit hati ke Presiden Jokowi karena niatnya bernegara, bukan sekadar berpolitik demi kekuasaan.

"Saya berharapnya, mari kita lebih sering bernegara daripada berpolitik, karena Indonesia ini perlu orang yang memikrikan Negara. Kalau orang memikrikan politik terus, nggak selesai-selesai," ujarnya.

"Saya sampai pernah bilang, pemilu itu 5 tahun sekali, bukan pemilu tiap hari. Kalau pemilu tiap hari, pilpres tiap hari, konsen kita pada pemilu terus, kapan memerintah? Kapan kita bekerja?" sambung Anies.

Anies menceritakan hubungannya dengan Jokowi (Rengga Sancaya/detikcom)

Dia yakin Jokowi punya banyak pertimbangan mencopot dirinya. Tak ada sakit hati, sepenuhnya Anies percaya kepada Jokowi.

"Jadi saya sampaikan bahwa ini adalah 100% haknya Presiden. Jadi saya nggak mau tempatkan rasa. Ini keputusan Bapak Presiden yang tentu mempertimbangkan banyak faktor," ujar Anies.

Setelah ini, Anies akan menanggapi isu yang menyebut dirinya mempersiapkan pencapresan. (tor/fjp)