Salah seorang pelukis, Aman Jonoes mengatakan kehadiran mereka di KPK untuk melukis menyambut datangnya Hari Kemerdekaan. Karya yang mereka buat atas refleksi 71 tahun Indonesia merdeka.
"Kami datang sebanyak 5 orang. Tujuannya menyambut Hari Kemerdekaan dan refleksi atas 71 tahun merdeka," ujar Aman di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (15/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di atas kanvas, Aman menggambar sosok anak sekolah yang mengangkat bendera di tangan kanannya. Sementara kedua kaki anak tersebut dililit oleh ular yang mulutnya terbuka siap menggigit.
Aman berkata maksud lukisan yang dibuatnya ialah menggambarkan kondisi bangsa yang terkekang oleh kejahatan, termasuk korupsi. Kejahatan yang belangsung membuat generasi lanjut terpuruk.
"Ini menggambarkan generasi muda yang semakin terpuruk. Ada ular yang menjadi simbol kejahatan. Kita bertarung melawan kejahatan yang menjerat dan menggigit," ujar Awan.
Lebih lanjut Awan berkata dalam umur 71 tahun merdeka, Indonesia sudah sekuat tenaga bangkit. Tapi kepemimpinan yang tidak berpihak pada rakyat yang akhirnya membuat rusak.
"Karena bangsa kita sepertinya masih terkekang meski sudah merdeka," ucapnya.
Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom |
Sementara perupa yang lain, Casjiwanto membuat sebuah lukisan dengan karakter utama Hanoman. Hanoman merupakan salah satu tokoh protagonis dalam cerita Ramayana.
Casjiwanto berharap KPK dapat berperan seperti Hanoman yang menumpas kejahatan hingga tuntas. Maka ia mengambil judul "Rombongan Hanoman" untuk karyanya kali ini.
"Kalau dalam cerita wayang kan Hanoman cuma satu. Tapi ini ada banyak. Jadi saya ingin KPK ingin seperti Hanoman yang memberantas kejahatan hingga tuntas. Seperti apa yang dia lakukan ketika memberantas angkara murka di Alenka," ungkap Casjiwanto.
Korupsi, lanjut Casjiwanto, saat ini sudah membudaya. Maka menurutnya, pemberantasan korupsi tidak cukup jika hanya mengandalkan hukum.
Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom |
Budaya buruk harus dilawan dengan budaya baik. Maka, katanya, tema yang dibawa Komunitas Perupa Kota Tua ialah "Mengembalikan Budaya Bangsa yang Hilang".
"Budaya baik harus dikembangkan. Itu ada di budaya bangsa dan kearifan lokal. Saya ingin mengembalikan identitas kebangsaan. Jas dan dasi sudah saya lepas. Karena simbol asing. Sekarang saya pakai batik karena identitas budaya sendiri," ucap Casjiwanto. (fdn/fdn)












































Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom
Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom