Akankah Nasib Mega Seperti Akbar?

Jelang Kongres PDIP

Akankah Nasib Mega Seperti Akbar?

- detikNews
Sabtu, 26 Mar 2005 09:40 WIB
Jakarta - Pertarungan merebut posisi ketua umum PDI Perjuangan periode 2005-2010 terus memanas. Akankah Megawati bernasib sama seperti Akbar Tandjung, gagal menjadi ketum?Sebagai pemenang kedua pemilu, kongres PDIP yang digelar 28 Maret-2 April 2005 di Bali tentu akan menyedot perhatian. Apalagi, dengan 109 kursi di DPR, posisi ketum PDIP sangat strategis dalam 5 tahun ke depan.Setidaknya, saat ini ada beberapa nama yang meramaikan bursa ketum partai moncong putih itu. Mereka antara lain Megawati, Guruh Soekarnoputra, Roy BB Janis, Arifin Panigoro dan Sophan Sopiaan. Dari semua calon, Megawati adalah calon terkuat. Hampir seluruh hasil Konfercabsus menyatakan mendukung pencalonan kembali putri Bung Karno itu sebagai ketum. Sedangkan nama adiknya, Guruh, hanya disebut pada 4 konfercabsus.Saling klaim dukungan pun juga terus terjadi. Megawati menyebut 95 % DPC se-Indonesia mendukung dirinya. Sementara, Guruh mengklaim lebih dari 250 DPC meminta dirinya menjadi ketum. Begitu pula halnya dengan Sophan yang menyatakan beberapa temannya juga meminta dirinya menjadi calon ketum.Dalam petunjuk pelaksanaan (juklak) kongres yang ditetapkan DPP PDIP, hasil konfercabsus yang dituangkan dalam berita acara akan dibacakan dalam forum resmi sebagai pandangan resmi DPC. Namun, bukan berarti Megawati akan melenggang mulus memegang kembali jabatan orang nomor satu di PDIP itu.Pengamat politik dari LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, memprediksi, kongres kali ini tetap akan berlangsung dinamis. Pasalnya, kemungkinan terjadinya politik uang sangat besar."Hasil konfercabsus itu jangan langsung take it for granted karena bukan mustahil peta itu berubah karena adanya money politics."Demikian ujar Ikrar dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (26/3/2005)."Apalagi pemerintah memang punya kepentingan terhadap PDIP," tukasnya.Menurutnya, kegagalan Akbar Tandjung merebut posisi ketum Partai Golkar bisa terulang pada diri Megawati. Pasalnya, saat ini loyalitas kader partai sudah tidak bisa diandalkan lagi."Siapa yang menyangka Akbar akan kalah dalam Munas Golkar. Dan saat ini memang sudah tidak bisa diandalkan lagi loyalitas kader terhadap figur Mega karena dalam politik tidak ada aliran politik balas budi," tandasnya.Untuk itu, lanjut Ikrar, saat pembacaan LPJ dalam kongres mendatang, Megawati harus legowo mengakui kegagalan memenangkan PDIP dalam pemilu 2004. "Mega harus berani membuka semua kegagalan PDIP dan menyatakan itu adalah kesalahan kolektif.""Saat itulah Mega bisa mengajak peserta kongres untuk bersama-sama membangun PDIP kembali," ujar Ikrar.Meski demikian, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Akankah kongres kali ini hanya ketok palu atau justru akan ada kejadian diluar prediksi? Kita tunggu saja pekan depan. (ton/)


Berita Terkait