Saat Menkum HAM Yasonna Teringat Masa Kecilnya

Saat Menkum HAM Yasonna Teringat Masa Kecilnya

Andhika Prasetia - detikNews
Jumat, 12 Agu 2016 11:16 WIB
Saat Menkum HAM Yasonna Teringat Masa Kecilnya
Menkum HAM Yasonna (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Menkum HAM Yasonna Laoly teringat akan masa kecilnya. Dia teringat akan masa kecilnya saat perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan RI.

"Sungguh kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk bergabung ke saudara sekalian. Karena kegiatan ini mengingatkan kita ke masa kecil. Setiap kegiatan kemerdekaan selalu diliputi oleh rasa gembira," ujar Yasonna dalam acara semarak perayaan 17 Agustus di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan HAM (BPSDM), Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat, Jumat (12/8/2016).
Menkum HAM Yasonna (Andhika/detikcom)

Acara diawali dengan melepas beberapa balon. Setelah itu dia melepas kontingen peserta lomba untuk mengikuti lomba panjat pinang dan tarik tambang. Setelah itu meninjau penerimaan siswa baru Politeknik Imigrasi (POLTEKIM). Kemudian Yasonna mengikuti lomba memancing. Dia sempat menjajal kail, memancing sebentar namun tidak dapat ikan.
Yasonna lepas balon (Andhika/detikcom)

Yasonna mengaku bahagia menatap wajah ceria stafnya dalam perayaan menyambut 17 Agustus di Kemenkum HAM. Dia berharap kebersamaan itu dapat memperkuat silaturahmi.

Indonesia akan merayakan 71 tahun kemerdekaan. Menurut pria kelahiran Tapanuli Tengah 63 tahun silam ini, kemerdekaan bukan hanya sebatas bebas dari penjajahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal yang harus menjadi pikiran kita adalah melakukan evaluasi. Salah satu di dalamnya adalah kebebasan dalam melaksanakan hak berkebudayaan. Sebagai masyarakat Indonesia kita memiliki kebudayaan yang beragam," kata politisi PDIP ini.

Indonesia, lanjut Yasonna merupakan bangsa yang besar dan membentuk kebudayaan nasional. Begitu banyak kasus klaim kebudayaan yang diklaim oleh bangsa asing, seperti lagu rasa Sayang-sayange, Batik Tulis, Reog Ponorogo, dan Tari Pendet.

"Terlihat apresiasi kita terhadap budaya nasional masih kurang. Mengapa hal tersebut terjadi karena proses akulturasi yang semakin memprihatinkan. Kita jadi lebih paham pada budaya asing daripada negara sendiri," ucap dia.

Yasonna berharap sudah seharusnya kita memperbaiki diri. Cara-cara yang dilakukan yakni dengan menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, menanamkan nilai Pancasila, menjalankan ajaran agama, serta selektif terhadap masuknya budaya asing. Upaya-upaya di atas harus sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan supremasi hukum dan menegakkan hukum dengan seadil-adilnya.

"Saya harap pemuda-pemuda terus mempertahankan semangat budaya kita yang beragam. Nantinya juga mewariskan kepada generasi muda yang mendatang agar tidak pudar dengan arus globalisasi. Seperti kata pepatah sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali," tutur Yasonna.

(nwy/erd)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads