Upacara Saparan Bekakak Macetkan Jalur Yogja-Wates 3 Jam
Jumat, 25 Mar 2005 21:35 WIB
Yogyakarta - Ribuan warga Yogyakarta, Jumat (25/3/2005), menyaksikan upacara tradisional Saparan Bekakak di desa Ambarketawang Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman. Bahkan, arus lalu lintas Yogya-Wates sempat macet selama 3 jam.Puncak acara Saparan ditandai dengan penyembelihan sepasang boneka pengantin (bekakak) yang terbuat dari tepung ketan dan gula Jawa di Gunung Gamping. Upacara yang berlangsung setiap hari Jumat pada minggu ketiga di Bulan Sapar berdasarkan kalender Jawa ini dilaksanakan untuk mengenang kesetiaan Abditersebut bernama Ki Wiro Suto dan Nyi Wiro Suto yang tewas tertimbun di gua Gunung Gamping.Saking meriahnya upacara dan antusias warga masyarakat yang ingin menyaksikan sempat memacetkan arus lalu lintas jalan Yogya-Wates selama 3 jam mulai pukul 15.00-18.00 WIB. Warga yang menonton membludak hingga hampir menutupi ruas jalan yang dilalui.Saat kirab, kedua pasangan pengantin itu ditempatkan di sebuah tandu/jolang beserta saji-sajian diantaranya ingkung ayam kampung, nasi tumpeng lengkap. Kirab Bekakak diiringi oleh 3 bregada keprajuritan, pasukan berkuda, pasukan demit (jin dan setan), 2 genderuwo (setan) dan 1 wewe gombel (setan) setinggi 3 meter. Tepat pukul 17.00 WIB, sepasang Bekakak yang diusung memadai tandu memasuki arena penyembelihan di altar yang ada di depan Gunung Gamping. Namun, 3buah gunungan berisi buah-buahan dan sayur-sayuran yang sedianya akan dibagikan pada masarakat sebagai simbol berkah, telah habis dijarah massa di depan pintu masuk Gunung Gamping.Setelah dilakukan doa permohonan, boneka Bekakak itu disembelih oleh seorang abdi dalem dari Kraton Yogyakarta. Sepasang disembelih menghadap utara ke arah Gunung Kiling dan sepasang lagi menghadap barat ke arah Gunung Ambarketawang.Saat disembelih, boneka terbuat dari tepung ketan itu langsung mengeluarkan darah yang dibuat dari gula kelapa. Setelah kepala dan badan bekakak terpisah langsung menjadi rebutan warga yang ingin memperolehnya. Mereka percaya potongan badan bekakak itu mendatangkan berkah bagi yang memilikinya.Salah seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta, Hardjosasmito kepada detikcom mengatakan upacara saparan mengandung maksud untuk memohon keselamatan warga masyarakat Gamping yang dulunya berprofesi sebagai penambang batu kapur. "Agar warga diberi keselamatan dan terhindar dari bahaya," katanya.Selain kata Hardjo, upacara ini juga untuk mengenang jasa-jasa abdi dalem kesayangan Sultan Hamengku Buwono I saat berada di pesanggarahan Ambarketawang ketika membangun kraton Yogyakarta. Abdi dalem Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto saat itu tewas tertimpa reruntuhan Gunung Gamping."Hilangnya Ki Wirosuto dan keluarganya di Gunung Gamping itu menimbulkan keyakinan pada masyarakat sekitar bahwa jiwa dan arwah Ki Wirosuto tetap ada di Gunung Gamping," katanya.
(ton/)











































