Sedangkan dua calon lainnya berasal dari non Eropa, tapi bukan dari Asia. Mereka adalah Asisten Komisaris Tinggi UNHCR Kamel Morjane (Tunisia) dan mantan Menlu Gareth (Australia). Bagi Evans, pencalonannya merupakan kesempatan kedua untuk menduduki jabatan tinggi di PBB, setelah ia pada 1996 gagal terpilih menjadi Sekjen.
Langkah PBB mengumumkan nama calon terlebih dahulu itu dinilai sebagai sebuah terobosan, sebab sebelumnya selalu dilakukan tertutup. Hal ini sesuai dengan kebijakan baru PBB yang ingin lebih mengedepankan transparansi dalam prosedur pengangkatan jabatan tinggi.
Posisi Komisaris Tinggi UNHCR lowong sejak bulan lalu, setelah Komisaris Ruud Lubbers mengundurkan diri akibat tuduhan melakukan perbuatan tak sopan dengan staf wanita. Mantan PM Belanda itu konon mencolek -maaf- pantat staf tersebut.
Lubbers sendiri, yang gajinya diserahkan kembali ke UNHCR alias sukarela, sudah melakukan bantahan atas pengaduan itu. Kasusnya yang sampai ke tangan Sekjen Kofi Annan, semula dianggap selesai. Namun, ketika kali kedua kasus itu diungkit lagi dan kembali mencuat di pers, akhirnya membuat Lubbers memilih mundur. Apalagi dikabarkan dia mendapat tekanan dari Annan. (es/)











































