Manuver Hanura Memecah Koalisi Lawan Ahok

Panasnya Pilgub DKI

Manuver Hanura Memecah Koalisi Lawan Ahok

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kamis, 11 Agu 2016 14:10 WIB
Manuver Hanura Memecah Koalisi Lawan Ahok
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Parpol pengusung Ahok yakni Golkar, NasDem, dan Hanura tak tinggal diam saat tujuh parpol lain menggalang koalisi kekeluargaan. Ketiganya seolah tak rela lawan Ahok bersatu menyusun strategi head to head lawan Ahok.

Partai Hanura misalnya menugaskan DPD DKI Jakarta untuk bergerilya. Nyatanya Ketua DPD Hanura DKI Jakarta Muhammad Sangaji melakukan lobi-lobi politik, menarik tujuh parpol yang bergabung dalam koalisi kekeluargaan untuk merapat ke Ahok, atau setidaknya 'mbalelo'.

Partai pertama yang dilobi adalah PDIP. Memang banyak elite PDIP mendorong Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini maju Pilgub DKI, namun DPP PDIP masih punya tiga opsi dan yang pertama adalah mendukung cagub incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca selengkapnya: PDIP Siapkan 3 Opsi untuk Pilkada DKI, Ada Kejutan di Batas Akhir

Karena situasi PDIP yang masih galau itu mungkin partai banteng moncong putih jadi target pertama Hanura. Karena itu PDIP dipilih jadi partai pertama yang dilobi Hanura.

Partai berikutnya yang dilobi Hanura adalah Partai Gerindra. Seperti diketahui saat ini Gerindra sudah punya calon gubernur DKI yakni Sandiaga Uno. Meski demikian Gerindra sebenarnya tak masalah kalau Sandi diduetkan dengan tokoh lain sebagai cawagub, karena itulah Gerindra menjajaki koalisi kekeluargaan dengan PD, PDIP, PPP, PKB, PAN dan PKS.

Namun sebenarnya Gerindra sudah punya kesepakatan dengan PKS untuk kepastian koalisi di Pilgub DKI. Mungkin karena posisi Gerindra dan PKS yang masih goyang itu Hanura menjadikan sasaran lobi kedua.

Ketua Hanura DKI Muhammad Sangaji mendatangi kantor DPP Gerindra DKI Jakarta membahas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di Pilgub DKI. Namun karena Gerindra sudah pasti tidak akan mendukung Ahok yang disampaikan lebih normatif menyangkut kesepakatan agar parpol bertarung dengan fair dan menjaga Pilkada yang damai dan lancar.

Di tengah lobi-lobi itu politikus yang akrab disapa Ongen ini menyebut koalisi kekeluargaan sangat prematur.

"Menurut saya koalisi itu masih prematur karena kebijakan ini ada di depan pimpinan pusat. Kalau Hanura, NasDem dan Golkar sudah ada rekomendasi dari dewan pimpinan pusat sedangkan 7 partai itu kecuali Gerindra ya karena sudah pasti mendukung Sandiaga Uno karena ada rekomendasi itu sedangkan kita menunggu kebijakan DPP jadi menurut saya itu kebijakan yang masih prematur," kata Ongen kepada wartawan usai pertemuan di Kantor DPP Gerindra DKI Jakarta, Rabu (10/8/2016).

Ia menyebut bakal ada kejutan minggu depan. Kejutan itu adalah parpol yang kini masuk koalisi kekeluargaan akan rontok.

"Tapi di antara 7 itu kemungkinan dua akan bergabung dengan Hanura-NasDem-Golkar. Ya itu nanti ya, pokoknya ada kejutan minggu depan. Seminggu ke depan lah gabung dengan kita. Saya yakin tidak akan lama lagi paling lama 10 hari lagi lah,"katanya.

Lalu siapa aja parpol yang bakal rontok?

Yang jelas upaya lobi-lobi terus dilakukan. Kabarnya tak hanya dua parpol itu yang dilobi, Ketum NasDem Surya Paloh kabarnya juga melobi PKB agar mau ikut mendukung Ahok. Seperti apa hasil akhir manuver tiga parpol pengusung Ahok ini? kita tunggu tanggal mainnya.

(van/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads