BNPT: Paham Radikal Bukan Ciri Khas Indonesia

BNPT: Paham Radikal Bukan Ciri Khas Indonesia

Idham Kholid - detikNews
Rabu, 10 Agu 2016 16:33 WIB
BNPT: Paham Radikal Bukan Ciri Khas Indonesia
Foto: istimewa
Cirebon - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan keberlangsungan tegaknya nilai-nilai Pancasila dan kebhinnekaan menghadapi tantangan. Tantangan paling nyata adalah munculnya paham-aham yang tak sesuai dengan Pancasila, seperti paham radikal, gerakan Alqaidah dan ISIS.

"Gerakan-gerakan yang tak sesuai dengan ideologi bangsa tersebut bukanlah ciri khas Indonesia dan bukan bagian dari nilai-nilai yang tumbuh di negeri ini," kata Deputi 2 BNPT Irjen Pol Arief Darmawan, di sela-sela kegiatan gerakan pencegahan intoleransi yang digelar Wahid Foundation, di Hotel Grage, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (10/8/2016).

Faktanya, lanjut Arief, gerakan-gerakan menyimpang yang memicu lahirnya terorisme berasal dan dibawa dari luar oleh pihak-pihak yang menginginkan Indonesia menjadi negara dengan ideologi lain selain Pancasila.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arief mencontohan, hasil riset dan survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation menyebutkan, potensi orang yang menganut paham radikal sebanyak 4% atau setara 11 juta orang. Menurut Arief, jumlah itu sangat besar dan menjadi ancaman serius bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Untuk itu, Arief menuturkan, BNPT terus berupaya melakukan pencegahan dan memberantas adanya gerakan-gerakan yang menyimpang tersebut bersama seluruh elemen masyarakat.

Sebagai lembaga pemerintah yang diamanatkan untuk pencegahan dalam bidang radikalisme dan terorisme, BNPT membutuhkan masukan dan saran dari masyarakat agar upaya pemberantasan maksimal dan membuahkan hasil seperti diharapkan.

Lebih jauh, Arief menegaskan, kemajemukan dan kebhinnekaan yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan modal strategis dan berharga bagi keberlangsungan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

"Salah satu modal penting dan berharga bagi tegaknya NKRI dan keberlangsungan bangsa Indonesia adalah kemajemukan dan kebhinnekaan. Ini yang harus kita rawat, ruwat dan kembangkan," ujar ujarnya.

Arief mengungkapkan, keragaman budaya, etnis, bahasa, adat dan kuliner yang dimiliki bangsa Indonesia harus terus dijaga. Menurutnya, semua itu dapat terawat dengan baik berkat ideologi yang dimiliki bangsa Indonesia, yakni Pancasila.

"Ini tentu berkah yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di dunia. Tinggal bagaimana kita dapat mengembangkan dan konsisten menerapkan nilai-nilai keragaman dan apa yang terkandung dalam falsafah bangsa, yakni Pancasila," papar mantan Kapolres Klaten dan Temanggung itu. (idh/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads