"Jika Full Day School ini mampu diterapkan dengan efektif dan kreatif, maka pelajar akan disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Tidak hanya peran guru, peran organisasi pelajar sangat dibutuhkan dalam memenuhi kegiatan yang kreatif ini," jelas Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Khairul Sakti, Selasa (9/8/2016).
Selama ini, waktu luang yang panjang rentan dimanfaatkan pelajar untuk tawuran sepulang sekolah, berbuat mesum, menggunakan narkoba, dan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara menurut Sekjen Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni yang merupakan doktor lulusa Australia, diskursus full-day school atau after school care tidak dapat dihindari. Hal ini mendesak dibicarakan terutama di perkotaan yang kedua orang tua bekerja.
"Bila tidak ada support yang baik dari keluarga untuk jaga anak di rumah setelah pulang sekolah, bisanya karir perempuan (istri) menjadi korban. Banyak contoh di depan mata kita ketika perempuan harus "mengalah" demi mengurus anak," urai Raja.
"After school care di Australia selalu menjadi isu politik jelang pemilu. Labour biasanya mensupport pendanaan (tax deduction) after school care dengan alasan memproteksi perempuan dan working class family. Conservative, biasanya, anti-bantuan seperti ini," tutup Raja. (dra/dra)











































