Kak Eko dari Kwarnas Pramuka Sukses Kibarkan Merah Putih di Puncak Kilimanjaro

Kak Eko dari Kwarnas Pramuka Sukses Kibarkan Merah Putih di Puncak Kilimanjaro

Nograhany Widhi K - detikNews
Minggu, 07 Agu 2016 18:21 WIB
Kak Eko dari Kwarnas Pramuka Sukses Kibarkan Merah Putih di Puncak Kilimanjaro
Foto: Kak Eko Sulistio dari Kwarnas Pramuka berhasil mencapai dan mengibarkan bendera merah-putih di puncak Kilimanjaro (Foto: Kwarnas Pramuka)
Jakarta - Kak Eko Sulistio dari Kwartir Nasional Praja Muda Karana (Kwarnas Pramuka) berhasil mendaki gunung tertinggi Afrika, Kilimanjaro. Bendera merah putih dan pramuka sukses dikibarkan di puncak gunung itu.

Bendera merah putih itu berkibar tepatnya di Stella Point, dengan ketinggian 5.895 meter di atas permukaan laut (MDPL). Gunung Kilimanjaro merupakan gunung tertinggi di Benua Afrika. Masyarakat lokal menyebutnya Kilima Dscharo atau Oldoinyo Oibor yang artinya gunung putih. Kilimanjaro setiap tahunnya dikunjungi sekitar 15.000 pendaki, dan 40% di antaranya berhasil sampai ke puncak.



Kak Eko berhasil sampai di puncak setelah menempuh perjalanan selama 8 hari, dimulai dari gerbang pendakian Machame Gate.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Machame Gate adalah pintu gerbang pendakian, di sini kita mengisi formulir pendaftaran, cek kesehatan, cek peralatan, cek porter dan guide sebelum melakukan pendakian," ujar Kak Eko saat dihubungi pada Minggu (7/8/2016) dalam rilis Kwarnas Pramuka yang diterima hari ini.



Perjuangan ini, lanjut Kak Eko, semata-mata untuk memperingati Hari Pramuka Ke-55 dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-71.

"Alhamdulillah, bendera Pramuka dan Merah Putih berkibar di gunung tertinggi di Afrika ini," ucapnya dengan penuh semangat.

Kak Eko mendaki Kilimanjaro bersama Kak Adit dari KBRI Nairobi. Dalam perjalanan menuju puncak, Kak Eko dan Kak Adit ditemani 19 orang porter, 3 guide, dan 1 dokter. Kak Eko menuturkan, banyak sekali tantangan fisik yang harus dilalui pendaki untuk sampai ke puncak seperti pusing, tidak nafsu makan, halusinasi, dan penyakit ketinggian.



"Ini adalah perjalanan yang luar biasa dalam hidup saya, karena tidak semua orang mampu menjalankan pendakian ini. Jalan terjal, cuaca ekstrem, dengan suhu minus 15 derajat celcius, oksigen semakin menipis tetap harus kita hadapi," tuturnya.

Kak Eko mengungkapkan, kondisi yang ekstrem itu terjadi di ketinggian 5.000 MDPL, banyak pendaki-pendaki dari berbagai negara yang terpaksa dievakuasi karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Ia bersyukur dalam situasi seperti itu masih bisa bertahan untuk melanjutkan perjalanan.

"Saya lihat, pendaki dari Jepang, Jerman, Hong Kong, Taiwan harus dievakuasi turun ke bawah, karena cuacanya sangat ekstrem. Alhamduliah saya masih bisa lanjut, saya orang Indonesia, negara yang besar, karena itu motivasi saya harus besar," ungkapnya senang.



Mendaki gunung bukanlah hal yang baru bagi Kak Eko, ia sebelumnya sudah pernah mendaki gunung-gunung di Indonesia termasuk Jayawijaya, gunung tertinggi yang ada di Papua dengan ketinggian 4.884 MDPL. Di Eropa, Kak Eko juga pernah melakukan pendakian bersama Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Kak Adhyaksa Dault.

Sementara itu, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada KBRI Nairobi dan Kak Eko Sulistio.

"Saya sudah mendaki banyak gunung di dalam dan luar negeri. Ini bukan semata soal kekuatan fisik, tapi juga kekuatan pikiran dan motivasi. Kalau soal fisik saja, Kak Eko dan tim sangat mungkin gagal. Tapi kan tidak, nyatanya ia berhasil mengibarkan Bendera Indonesia dan Bendera Gerakan Pramuka di Puncak tertinggi Afrika. Kenapa? Karena sebelum berangkat, pikirannya sudah ada di puncak, ada motivasi besar ingin membahagiakan banyak orang," kata Kak Adhyaksa. (nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads