Pengamatan detikcom, Minggu (7/8/2016) di Galeri Nasional Indonesia yang terletak di seberang Stasiun Gambir, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, sekitar pukul 12.20 WIB antrean pengunjung yang ingin melihat lukisan koleksi Istana sudah mencapai 3 meter. Para pengunjung diharuskan untuk melakukan registrasi dan mengambil nomor antrean untuk masuk.
Menurut salah seorang pengunjung, Sri, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, pameran lukisan koleksi Istana yang disambut antusias masyarakat ini merupakan dampak positif bagi pameran seni rupa. Apalagi menurutnya, antrean panjang ini seperti antrean di bioskop saat pemutaran film baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antrean ke Pameran Lukisan Istana/ Yudhis detikcom |
"Saya ke Jakarta untuk datang ke sini. Ini yang kedua kali. Pertama pas Pak Jokowi yang buka. Nah, sekarang datang dengan para alumni seni rupa UPI. Saya dari pukul 11.30 WIB. Saya sudah masuk ke dua gedung. Kegiatan ini sangat jarang ya. Dengan begini kan ini koleksi Istana kita bisa lihat. Ini benar-benar luar biasa. Sering-sering saja yang lain belum ditampilkan dikeluarin," kata Sri yang juga alumni Seni Rupa Universitas Pendidikan Bandung.
"Kita rombongan dua bus. Terus antrean ini sangat luar biasa ya. Ini kayak nonton bioskop yang film baru tayang. Sampai ngantre gini. Ini sangat jarang. Berarti masyarakat antusias. Biasanya kan konser musik yang banyak dijejali pengunjung. Nah, sekarang pameran ini yang dikunjungi. Berarti sudah punya tempat," lanjutnya.
Hingga pukul 12.50 WIB antrean nomor urut pengunjung yang akan masuk ke dalam gedung baru sampai nomor 50. Meski cuaca panas, namun tak menyurutkan niat masyarakat untuk melihat karya seni lukis salah satunya dari maestro Basuki Abdullah.
Warga antusias melihat lukisan Istana/ Yudhis detikcom |
Berikut daftar koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang akan ditampilkan di Galeri Nasional:
1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat, 1946
2. Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955
6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
10. S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
11. S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
12. S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
13. S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
14. S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
18. Soerono, Ketoprak, 1950
19. Ir. Sukarno, Rini, 1958
20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjinsing, 1949
27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950-an) (yds/rvk)












































Antrean ke Pameran Lukisan Istana/ Yudhis detikcom
Warga antusias melihat lukisan Istana/ Yudhis detikcom