TW diketahui merupakan seorang mahasiswi di Bandung, Jawa Barat. Namun ia tinggal bersama orang tua dan saudaranya di Sawangan, Depok. Rumah ini yang menjadi tempat produksi makanan ringan tersebut. Ayah TW yang berinisial S diketahui sudah lama menjadi penduduk di tempat tinggalnya itu.
"Kalau Pak S (kepala keluarga) sih memang orang lama di sini. Pekerjaan pengusaha cuma nggak tahu persis, kalau bapaknya sih selama ini terbuka orangnya," ungkap tetangga TW, Zaenal Abidin (51) saat ditemui di rumahnya di kawasan Sawangan Baru, Depok, Sabtu (6/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga disampaikan oleh tetangga samping rumah TW, Syaiful (47). Ia mengenal ayah TW sebagai sosok yang baik. S juga disebut memiliki tempat pemancingan tak jauh dari rumahnya. TW sekeluarga juga diketahui ramah dan tidak pernah neko-neko.
"Saya tidak tahu kalau anaknya ada usaha cemilan di rumah nya, soalnya memang tidak kelihatan. Kalau Pak S dan keluarga saya kenal baik-baik saja. Mereka sekeluarga orang lama di sini, tahun 90-an sudah di sini," jelas Syaiful.
"Yang sering ketemu kan sama pak S-nya, tapi memang mereka keluarga baik-baik, tidak pernah mencari masalah, kalau ketemu juga menyapa," imbuh dia.
TW yang masih berusia 19 tahun itu jarang terlihat di lingkungan rumahnya karena lebih sering berada di Bandung. Perempuan tersebut hanya sesekali terlihat pulang ke rumahnya.
Rumah TW dan keluarga di Sawangan, Depok. (Foto: Andhika/detikcom) |
"Si TW juga baik kok orangnya, tapi saya jarang bertemu dia, yang saya tahu kuliah di Bandung. Sesekali saya suka melihat TW, tapi tidak sering, seminggu sekali-dua kali mungkin," kata Syaiful.
Tetangga di sekitar rumah TW tidak banyak yang tahu mengenai adanya penggerebekan BBPOM Kota Bandung bersama Polres Depok. Sebab penggerebekan yang menyita Snack Bikini siap jual tersebut dilakukan pada dini hari.
Sebelumnya diberitakan, BBPOM Bandung memastikan, Snack Bikini tidak memiliki izin edar. Tak ada masalah terhadap bahan baku untuk cemilan tersebut namun BBPOM Bandung menyayangkan kemasan snack Bikini yang vulgar.
"Motifnya cari sensasi saja. Anak-anak alay. Tidak ada izin, kemasan juga vulgar. Ini yang kami sayangkan," tutur Kepala BBPOM Bandung Abdul Rahim dalam jumpa pers di kantornya, Sabtu (6/8). (elz/trw)












































Rumah TW dan keluarga di Sawangan, Depok. (Foto: Andhika/detikcom)