DetikNews
Jumat 05 Agustus 2016, 17:14 WIB

Sepenggal Kisah Gajah-gajah yang 'Dipelihara' di Alam Bebas Siak Riau

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Sepenggal Kisah Gajah-gajah yang Dipelihara di Alam Bebas Siak Riau Foto: Chaidir Anwar T/detikcom
Siak - Ini sepenggal kisah 'angon' alias menggembalakan gajah liar yang diasuh menjadi jinak. Butuh waktu dan kesabaran sehingga gajah liar mengerti perintah dari mahot (pawang) dengan bahasa Indonesia.

Adalah Tumari (45) dan Hadiyanto (42), karyawan PT Sinar Mas Forestry anak perusahaan Sinar Mas Group di Kabupaten Siak, Riau. Kedua pria ini memiliki tugas khusus untuk menjadi pawang gajah.

Mereka sama-sama sudah mengabdi belasan tahun untuk memberikan pendampingan pada 6 ekor gajar yang dikelola pihak perusahaan. Gajah itu berada di kawasan Arberetum milik perusahaan. Kawasan ini merupakan kondisi hutan alam yang disisakan dari luasnya konsesi Hutan Tanaman Industri.

Foto: Chaidir AT/detikcom

Butuh waktu perjalanan sekitar 2 jam dari ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru. Menuju ke arberetum tentunya harus dipandu pihak manjemen. Bila tidak, bisa kesasar karena jalan yang mirip sama di tengah kawasan hutan industri.

Detikcom berkesempatan meninjau lokasi tersebut dalam sebuah acara penanaman pohon antara Sinar Mas Group dengan dua lembaga independen dari Jepang, Kamis (4/8/2016).

Dengan adanya acara tersebut, dua ekor gajah yang biasanya ditambat di tengah hutan kali ini gajah didekatkan dengan tempat acara. Dua ekor gajah betina dengan bobot antara 2,5 sampai 3 ton menjadi pemandangan menarik.

Foto: Chaidir AT/detikcom

Obrolan ringan bersama dua pawang gajah itu diketahui bahwa mereka butuh beradaptasi sekitar 1 sampai 2 bulan agar gajah liar menjadi jinak.

Tumari, satu di antara pawang gajah menceritakan, saban hari gajah ini harus dibawa ke dalam kawasan hutan. Sebelum masuk ke dalam hutan, gajah tersebut terlebih dahulu harus dimandikan di sungai kecil yang ada di dalam kawasan arberetum.

"Gajah tidak akan mau cari makan, kalau belum mandi. Jadi gajah ini juga selalu menjaga kebersihannya," cerita Tumari yang mendampingi gajah bernama Ivoduwanti yang berusia 32 tahun.

Dari kandang gajah menuju tempat pemandian berjarak sekitar 500 meter. Menuju ke lokasi, biasanya para pawang naik di atas punggung gajah.

Foto: Chaidir AT/detikcom

Setelah puas mandi, barulah gajah-gajah tersebut digiring ke dalam kawasan hutan dengan posisi pawang tetap berada di punggung gajah tersebut. Setelah lokasi rerumputan di dapat dan gajah menunjukkan mau memakannya, di sinilah perang pawang untuk menambak gajah.

"Kaki gajah mesti kita ikat dengan rantai dimana kedua kaki hanya berjarak sekitar 40 cm meter saja. Lantas rantai panjang kita tambatkan ke pohon," kata Tumari.

Mengapa tidak dibebaskan saja? Jawabannya sederhana, jika dilepaskan gajah bisa berjalan jauh dan itu bisa memasuki perkampungan penduduk. Sedangkan kedua kakinya diikat dengan sedikit rapat, agar tidak memiliki kesempatan untuk memutus rantai tersebut.

"Kalau kedua kaki depannya tidak kita ikat, gajah bisa memutus rantai tersebut. Dengan diikat kedua kakinya bisa mengurangi tenaganya," kata Tumari.

Foto: Chaidir AT/detikcom

Gajah membutuhkan makanan minimal 10 persen dari berat tubuhnya dalam sehari. Setelah seharian mencari makan, sore hari para pawang kembali membawanya ke kandang. Sebelum sampai ke kandangnya, gajah tetap kembali mandi pada sore hari. Begitulah kesehariannya dalam menjaga gajah.

Peran pawang lainnya bertugas melatih gajah. Mulai perintah duduk, melangkah, memberi hormat yang semuanya dengan perintah berbahasa Indonesia. Ketika warga Jepang dan jurnalis mendekat ke gajah, Tumari memerintahkan gajah untuk memberi hormat.

"Hayo hormat," kata Tumari sembari menari tali yang melilit di leher gajah. Spontan gajah itu memberi hormat dengan melipat kedua kaki depannya.

Begitupun, gajah Ivo sempat terlihat marah. Ini bisa diketahui dengan menaikkan belalainya ketika seseorang melintas di depannya. Tumari lantas menepuk belalai itu.

"Dia tadi marah, tanda ya itu, dia angkat belalainya tinggi-tinggi. Kalau sudah begitu tanda marah," kata Tumari.

Belalai diangkat tinggi, bisa juga menandakan gajah tersebut tidak berdia jalan. Misalkan saja, ketika masuk dalam kawasan hutan, tiba-tiba gajah berhenti dan mengangkat belalainya.

"Kalau sudah seperti itu, biasanya gajah sudah mencium ada satwa liar yang berbahaya di depannya. Di sini, yang ada hanya beruang. Biasanya dia bisa mencium kalau di kawasan tempat mau makannya ada beruang, walau kita sendiri tidak melihatnya," kata Tumari.

Foto: Chaidir AT/detikcom

Jika sudah seperti itu, kendati beruang liar tidak kelihatan, para pawang akan menggeser untuk mencari rerumputan di tempat lain.

"Kalau hanya sekedar babi liar, gajah tidak mempersoalkan. Tapi kalau gajah sudah mencium ada beruang, dia tidak mau makan di sekitar itu," terang Tumari.

Pemeliharaan gajah liar menjadi jinak ini merupakan amanat pemerintah terhadap perusahaan pemegang konsesi HTI. Dimana perusahaan diwajibkan untuk melestarikan satwa yang dilindungi. Salah satu bentuk yang ditunjukan Sinar Mas Forestry dengan memelihara 6 ekor gajah sumatera tersebut.

Awalnya, pihak perusahaan hanya memelihara 4 ekor gajah. Satu di antaranya gajah jantan. Tapi sekitar tahun 2004 silam, dua gajah betina milik Sinar Mas ini melahirkan dua ekor bayi gajah. Sehingga kini total gajah menjadi 6 ekor.
(cha/trw)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed