Gebrakan Risma Menata Surabaya

Beda dengan Jakarta, Trotoar Surabaya Cantik dan Nyaman Bagi Pejalan Kaki

Zaenal Effendi - detikNews
Jumat, 05 Agu 2016 10:57 WIB
Trotoar di Jl Yos Sudarso Surabaya, Foto: Budi Sugiharto
Surabaya - Trotoar di Jakarta sudah beralih fungsi dan tak lagi nyaman untuk pejalan kaki. Namun beda cerita dengan trotoar di Surabaya, trotoar yang nyaman membuat warga kota terbesar kedua di Indonesia nyaman berjalan kaki.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Tri Rismaharini pembangunan pedestrian yang nyaman dan manusiawi menjadi perhatian serius. Upaya mempercantik dan memberikan kenyamanan bagi warganya terus dilakukan, salah satunya memperlebar, mempercantik fasilitas pedestrian serta manusiawi dan peduli bagi kaum difabel.

Selain bisa menikmati kerindangan pepohonan yang memayungi membuat pejalan kaki di trotoar yang sudah dipercantik dengan keramik itu makin merasa nyaman.
Trotoar di Jl Wali Kota Mustajab di Surabaya, Foto: Budi Sugiharto

Tak hanya itu, pedestrian yang pembangunannya dirintis sejak kepimpinan pasangan Bambang DH-Arif Afandi ini juga tak melupakan kepentingan kaum difabel (tunanetra) dengan memberikan jalur khusus. Desain pemilihan keramik yang dipasang disesuaikan, berbeda dengan keramik di ruas atau bidang lainnya.

"Saat ini kita fokuskan pedestrian seluruhnya baru kita pasang jalur difabel, mana yang belum akan diberi secara bertahap," kata Kepala Dinas PU, Bina Marga dan Pematusan Surabaya, Erna Purnawati, pada detikcom, Kamis (4/8/2016).
Trotoar ramah difabel di Jl Wali Kota Mustajab Surabaya. Foto: Budi Sugiharto

Kini hampir 91 jalan, trotoarnya sudah dibangun dan dipercantik serta dilengkapi jalur untuk penyandang difabel. Di antaranya Jalan Raya Darmo, Rajawali, Urip Sumoharjo (arah Darmo), Raya Gubeng, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Pemuda dan Jalan Ahmad Yani (frontage road sisi timur) serta Jalan Gemblongan.

"Saat ini, untuk jalur protokol atau jalan tengah kota sudah terbangun pedestriannya termasuk kawasan sentra ekonomi dan perkantoran. Saat ini terus kita lakukan pembangunan di jalan pendukung," pungkas Erna.

Kondisi di Jakarta

Beda cerita dengan trotoar di Jakarta yang sudah banyak beralih fungsi. Trotoar di Jakarta dinilai tak lagi memfasilitasi hak pejalan kaki.

"(Tempat) Pedestrian itu ada yang masih ngawur dan ada yang setengah teratur. Kenapa? Karena di jalan-jalan besar seperti Sudirman-Thamrin ruang pejalan kakinya sudah tersedia dan sudah teratur. Tapi di ruas jalan lain masih ngawur di (tempat) pedestrian ada pedagang kaki lima, jadi lahan parkir, malah kalau ada pejalan kaki yang lewat lebih galak mereka," kata pengamat kebijakan publik Agus Pambagio, dalam diskusi mengenai 'Kualitas Pedestrian' di kantor Ombudsman RI, Jl HR Rasuna Sahid, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (4/8/2016).
Pedagang parsel di trotoar Cikini, Jakarta Pusat

Tak hanya itu saja ketika mau menyeberang jalan, pejalan kaki pun susah. "Zebra cross saja yang seharusnya untuk pejalan kaki malah diserobot pengendara, bahkan kalau diingatkan lebih galak pengendaranya dari pada pejalan kaki. Ini yang seharusnya bisa dijerat dengan pelanggaran lalu lintas," tambah Agus sembari memaparkan perlindungan bagi pejalan kaki di zebra cross yang diatur di UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ.

Memang masih ada trotoar yang sangat nyaman untuk pejalan kaki seperti sepanjang Jl Sudirman-MH Thamrin dan sekitar Monas di Jakarta Pusat. Lalu kapan trotoar-trotoar lain di Jakarta bakal nyaman digunakan untuk pejalan kaki?



(van/nrl)