Cagub Aceh Apa Karya Daftar Jalur Independen, Bawa Satu Truk KTP Dukungan

Cagub Aceh Apa Karya Daftar Jalur Independen, Bawa Satu Truk KTP Dukungan

Agus Setyadi - detikNews
Rabu, 03 Agu 2016 22:48 WIB
Cagub Aceh Apa Karya Daftar Jalur Independen, Bawa Satu Truk KTP Dukungan
Foto: Pasangan Bacagub Aceh Zakaria Saman dan Teuku Alaidinsyah maju lewat jalur independen (Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh - Pasangan Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Aceh Zakaria Saman dan Teuku Alaidinsyah menyerahkan satu truk Kartu Tanda Penduduk (KTP) ke Komisi Indenden Pemilihan (KIP). Berkas dukungan tersebut sebagai syarat untuk mencalonkan diri melalui jalur perorangan (independen).

Zakaria Saman atau biasa dipanggil Apa Karya datang ke kantor KIP Aceh bersama puluhan pendukungannya, Rabu (3/8/2016). Begitu tiba, ia langsung membawa turun 94 kardus salinan KTP yang diangkut dengan satu unit truk. Apa Karya yang berpasangan Teuku Alaidinsyah (ketua PMI Aceh) menjadi calon pertama yang menyerahkan dukungan.

Untuk maju melalui jalur independen, KIP Aceh mewajibkan pasangan calon kepala daerah agar menyerahkan dukungan sebanyak tiga persen dari jumlah penduduk Aceh. Batas waktu penyerahan mulai hari ini hingga 7 Agustus mendatang. Apa Karya menyerahkan 154.736 lembar salinan kartu penduduk.

Ketua KIP Aceh Ridwan Hadi, mengatakan, pihaknya sudah menerima bukti dukungan yang diserahkan pasangan Apa Karya dan Alaidinsyah. KIP Aceh akan melakukan verifikasi faktual berkas dukungan tersebut.

"Jika ada dukungan yang rusak atau keliru, calon diberi waktu untuk memperbaikinya," kata Ridwan.

Sementara itu, Apa Karya mengaku memilih maju sebagai calon gubernur untuk memajukan Tanah Rencong. Mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini mengaku kecewa dengan kepempimpinan selama sepuluh tahun terakhir sejak penandatanganan damai 2005 silam.

"Kondisi sekarang ini lebih buruk. Saya maju sebagai gubernur bukan untuk saya sendiri tapi untuk Aceh," kata Apa Karya.

Saat konflik Aceh berkecamuk, Apa Karya pernah menjadi pelarian politik ke Swedia dan sejumlah negara lain. Selama pelarian itu, ia membangun jaringan dan mencari senjata untuk dipasok ke Aceh. Menjelang pemberlakukan darurat militer, Apa Karya memilih pulang untuk berjuang bersama pasukan GAM di belantara hutan Aceh.

Setelah perdamaian, ia bersama petinggi GAM lainnya ikut mendirikan partai lokal yaitu Partai Aceh. Ia didapuk sebagai tuha peut (dewan syuro). Namun saat memilih maju sebagai calon gubernur melalui jalur independen, Apa Karya mengaku sudah keluar dari partai tersebut. (hri/hri)


Berita Terkait