Slamet mengatakan berdasarkan pemeriksaan dengan mikroskop, warna lambung Mirna berubah dari warna putih menjadi hitam akibat zat korosif. Slamet memeriksa lambung Mirna atas permintaan penyidik Kepolisian pada 9 Januari hingga 10 Januari dini hari.
Setelah mendengar penjelasan tentang zat korosif di dalam lambung Mirna yang disebabkan karena sianida, Otto bertanya apakah narkoba juga bisa menyebakan korosi. "Ekstasi bisa menyebabkan korosi?"
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otto lalu melanjutkan pertanyaan, apakah heroin dan sabu-sabu bisa menyebabkan korosi juga. Menurut Slamet, heroin tidak menyebabkan korosi karena tidak bersifat asam basa, sementara sabu-sabu memang agak asam namun tidak sampai menyebabkan korosi, hanya membuat lambung iritasi dan kemerahan, bukan hitam seperti sianida.
"Ekstasi atau yang lain diminum dalam jumlah banyak bisa menyebabkan berbusa (mulut)?" tanya Otto lagi.
Slamet menjawat mulut seseorang yang mengkonsumsi narkoba misalnya ekstasi akan mengeluarkan busa banyak dari mulutnya. "Sampai meleleh (busanya) banyak sekali," jawab Slamet.
Pertanyaan masih seputar narkoba. Otto bertanya apakah mengkonsumsi heroin bisa langsung meninggal.
"Bisa tapi nggak secepat ini, yang paling jelas tandanya itu berbusa mulutnya karena paru-parunya membengkak," jelas Slamet.
"Sianida (bisa menyebabkan) berbusa?" tanya Otto.
"Tidak berbusa tapi bisa keluar cairan dari mulut. Cairannya berupa lendir," jelasnya.
Ahli: Hasil Kasat Mata, Warna Lambung Mirna Berubah Jadi Hitam Akibat Zat Korosif
Wayan Mirna Salihin meninggal usai minum es kopi Vietnam di Kafe Olivier tanggal 6 Januari 2016. Hasil uji lab menyimpulkan Mirna meninggal karena racun sianida. Teman Mirna, Jessica Kumala Wongso, yang saat itu memesankan kopi untuk Mirna menjadi terdakwa dalam kasus ini. (slh/nrl)











































