Polisi pun Tertawa Amankan Demo ISI Yogya Tolak BBM
Kamis, 24 Mar 2005 16:49 WIB
Yogyakarta - Aksi demo menolak kenaikan harga bahan bakan minyak (BBM) masih marak di Yogyakarta. Puluhan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) hari ini, Kamis (24/3/2005) juga menggelar aksi menolak kenaikan harga BBM dan menuntut pemerintah segera menurunkan harga BBM.Aksi yang digelar para mahasiswa seni di depan Istana Negara Gedung Agung di Jl Ahmad Yani mulai pukul 14.00 WIB itu bukan dengan gaya orasi yang serius seperti kelompok aksi lainnya. Namun aksi mereka justru banyak disertai guyonan, banyolan dan berbagai atraksi kesenian.Akibat aksi itu sempat memacetkan arus lalu lintas. Para pejalan kaki dan pengendara motor yang melintas banyak yang berhenti, untuk sekadar melihataksi mereka yang mengundang banyak tawa. Bahkan dua peleton aparat Poltabes Yogyakarta yang menjaga ketat Gedung Agung sempat dibuat tertawa oleh ulah para mahasiswa ISI.Tidak hanya atraksi tari-tarian dengan iringan musik gamelan saja, namunjuga hapening art yang menggambarkan kesengsaraan rakyat Indonesia akibat kenaikan harga BBM. Ketika salah seorang peserta demo, Sastro Wanto mempertunjukkan atraksi gurauan sulapnya, banyak penonton yang dibuat tertawa hingga terpingkal-pingkal.Dalam atraksi sulapnya, Wanto menjanjikan bisa memenggal leher korban tanpa meneteskan darah. Tapi ketika seorang gadis bersedia menjadi "korban"-nya, eh Wanto ingkar janji. "Maaf, atraksi dibatalkan karena alasan cuaca," kilahnya disambut tawa penonton.Selain membawa poster dan spanduk, mereka juga mengusung seperangkat alat kesenian gamelan. Sedangkan mobil pick up dilengkapi pengeras suara dijadikan panggung orasi. Beberapa poster yang dibawa di antaranya bertuliskan BBM = Barang Barang Mahal, BBM Naik Aku Gagal Beli vespa, BBM Naik Rakyat Menjerit Beras Tak Terbeli.Koordinator aksi M. Ikhsan Zulkifli dalam orasinya menyatakan dampak dari kenaikan harga BBM sebesar 29 persen itu tidak hanya dirasakan oleh rakyatkecil saja, namun juga para seniman. Akibat BBM naik, kesenian pun ikut menjadi terpuruk karena rakyat sudah tidak mampu lagi melihat berbagai kegiatan seni."Tidak hanya rakyat yang terpuruk, seniman pun ikut terpuruk. Wis ora payu (sudah tidak laku-red). Rakyat semakin susah hidupnya karena semua kebutuhanikut naik," kata Ikhsan.Ikhsan mengatakan pemerintah saat ini sudah mentulikan telinganya, meskirakyat Indonesia dan anggota DPR menolaknya. Namun pemerintah tetap menaikkan harga BBM dan berjanji akan memberika ganti dengan dana kompensasi untuk pendidikan dan kesehatan. "Ini sungguh menyakitkan hati rakyat. Tak ada kata lain kecuali menolak," teriak Ikhsan.
(nrl/)











































