Anggota DPR Komisi V Alamuddin Dimyati Rois mengatakan, pertemuan di Hotel Ambara hanya sekali dan itu pun tak membahas mengenai program aspirasi. Namun, rekan sekomisinya Damayanti Wisnu Putranti menyebut pertemuan dilakukan lebih dari sekali.
"Pernah (di Ambara), sekali. Kalau (waktu) persisnya saya tidak ingat, hanya mungkin di Oktober, mungkin," kata Alamuddin saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (1/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alamudin menjelaskan, hadir saat itu Damayanti, Julia Prasetyarini, Dessy A Edwin, Budi Supriyanto, Fathan, dan Amran Hi Mustary. Alamuddin membantah ada bahasan soal program aspirasi di Maluku saat pertemuan di Ambara tersebut. Ia juga mengaku tak mendengar apa yang dibicarakan Damayanti dengan Amran karena berbeda meja.
"Saya tidak pernah mengusulkan program apapun. Memang faktanya yang saya ingat seperti itu," ujar Alamuddin.
"Saya tidak satu meja dengan Mbak Yanti, Pak Budi, Pak Amran maupun Pak Fathan. Kalau Pak Budi, mohon maaf, sering nyanyi, karena di situ ada live music. Mejanya tidak sebaris tapi berurutan. Mbak Yanti dan Pak Amran di pojok, saya di depannya," imbuhnya.
Menurut Damayanti, sebelum bertemu dengan Amran Hi Mustary membahas program aspirasi, ia dan rekan-rekan Komisi V berkumpul di kamar 621 Hotel Ambara.
"Posisi duduk tidak jauh, dua meja dijadikan satu. Alam duduknya serong depan saya. Tidak ada live music, di ruangan itu tidak dengar tidak tahu tidak juga, karena sebelum kumpul di Ambara, kita kumpul di 621 dan sama-sama sepakat untuk menaruh aspirasi di Maluku. Kalau tidak tahu ada pertemuan masalah aspirasi di Ambara, ya tidak mungkin. Ngapain juga Alam ikut ke Ambara kalau tidak tahu soal aspirasi," beber Damayanti.
Alamuddin menyangkal adanya pertemuan di kamar 621. Terkait berapa kali pertemuan digelar, Alamuddin meminta CCTV dihadirkan agar bisa diketahui keterangan siapa yang benar.
"Tidak tahu (pertemuan di 621). Saya berangkat dari rumah. Kalau memang Mbak Yanti punya ingatan seperti itu, monggo yang mulia. Saya kira kalau ada CCTV-nya jauh lebih baik, karena saya meyakini hanya sekali (pertemuan)," tutur Alamuddin. (rna/hri)










































