Ini Pernyataan Lengkap Ahok yang Dianggap PDIP Mengadu Domba Risma dan Jokowi

Ini Pernyataan Lengkap Ahok yang Dianggap PDIP Mengadu Domba Risma dan Jokowi

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 01 Agu 2016 14:31 WIB
Ini Pernyataan Lengkap Ahok yang Dianggap PDIP Mengadu Domba Risma dan Jokowi
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Jakarta - Gubernur DKI yang kembali ingin maju ke Pilgub DKI 2017, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membuat sebuah pernyataan yang menyinggung salah seorang pengurus DPD PDIP Surabaya. Sebenarnya bagaimana pernyataan lengkap Ahok yang dianggap pengurus PDIP mengadu domba Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan Presiden Jokowi itu?

Ahok menuturkan komentar perihal Pilgub DKI 2017 itu saat ditanyai oleh wartawan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (1/8/2016) pagi.

Ahok menuturkan bahwa Risma yang notabene sekarang adalah Wali Kota Surabaya tentu mampu menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sebelumnya, ada Wali Kota Solo yang bisa menjadi Gubernur DKI, yakni Jokowi, yang akhirnya menjadi Presiden RI. Sebagaimana diketahui, Surabaya adalah kota besar di Indonesia dan sering disebut kota besar kedua setelah Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahok berusaha mengingat-ingat bahwa agaknya Risma pernah menyebut Surabaya lebih besar dari Solo. Hal ini kemudian menuai reaksi keras dari Wakil Ketua DPC PDIP Surabaya Didiek Prasetyono yang menilai pernyataan Ahok mengandung unsur adu domba dua kader PDIP berprestasi, yakni Risma dan Jokowi.

Berikut petikan tanya (T) jawab (J) antara wartawan dan Ahok, yang menuai reaksi dari Didiek Prasetyono itu.

T: Pendukung Bu Risma semakin banyak ini, Pak?

J: Ya enggak apa-apa. Saya selalu sampaikan memang Jakarta ini harus jadi titik semua kepala daerah yang dianggap berhasil untuk di sini, ya kan? Apalagi seingat saya juga Bu Risma pernah ngomong, saya enggak tahu ya, coba dicek begitu, kan Surabaya lebih besar dari pada Solo. Wali Kota Solo bisa jadi Presiden, masa Wali Kota Surabaya enggak bisa? Semua orang kan punya pikiran yang bebas.

Nah, bagi saya orang Jakarta akan diuntungkan. Pilihan banyak kan. Kan dulu kita pernah uji coba kan, Gubernur Palembang Sumsel datang, kira-kira begitu kan.

Jadi memang harus begitu, jadi masyarakat Jakarta bisa lihat, bisa bandingin gitu loh. 'Kamu kerja apa saja selama ini di daerah kamu, berapa lama.' Semua mesti dibandingin.

Misalnya kamu bicara tentang apa, membangun taman. Terus kamu bandingin nanti kan, taman di daerah yang kamu bangun seperti apa, yang dibangun dari kami seperti apa. Kamu bangunnya butuh berapa tahun, 15 tahun, 5 tahun, (sedangkan) di sini berapa tahun.

Jadi nanti masyarakat akan membandingkan, karena ini zaman sosial media begitu cepat. Nanti semua orang akan saling memfoto. Nah ini yang saya katakan akan memberikan keuntungan orang Jakarta. Orang Jakarta langsung dikorek nih koreng-korengnya semua nih kan? Jadi orang akan mulai ngeluh.

Ini menarik, jadi kalau kamu dari daerah lain, datang, lawan politik kamu juga akan membongkar borok kamu. Pasti dong, dia akan bongkar borok kamu, mengatakan kamu begini-begini. Ini menarik.

Jadi ini yang saya katakan, demokrasi yang kami harapkan, sehingga semua orang memilih orang berdasarkan meritokrasi, bukan warna kulit.

T: Kalau Bu Risma maju berarti dia maju dari PDIP dong?
J: Saya enggak tahu, saya kan enggak tahu.

T: Masih mengusahakan Pak Djarot jadi wakil (cawagub) enggak?
J: Enggak, saya kira kita komunikasi baik saja. Kita bukan mengusahakan atau apa begitu ya. Posisi sekarang kita bicara dengan tiga parpol. Dengan PDIP, ya saya enggak mau pusingin lah, jalani aja lah, pusing amat. Saya putusin kerja saja.

Kan saya maju masih punya wakil sampai Oktober 2017. Dan saya jamin orang jakarta, saya kalau keluar dari sini sejak Oktober 2017 pun, kamu sudah lihat sistem jakarta, apa yang kamu lihat sudah berubah. Walaupun rumah susun belum 300 ribu. Tapi kamu sudah lihat semua model, walaupun misal trotoar yang 2.600 kilometer belum selesai, marka jalan belum selesai. Tapi kamu sudah lihat taman seperti apa, sistem seperti apa, kamu pasti lihat lah. Ini saya jamin. Termasuk template e-Budgeting saya jamin. Pasti kamu lihat berbeda.

T: Persiapan sejauh ini bagaimana?
J: Kerja saja. Ngapain pusing?

T: Lawan terberat siapa?
J: Ya lawan terberat saya sendiri.

T: Antara Pak Sandiaga dan Bu Risma?
J: Semua bebas saja. Bagi saya begini, bukan soal lawan berat atau tidak berat. Saya senang kalau semakin banyak orang mau menjadi gubernur DKI, apalagi dari daerah, makin baik. Ini akan mendorong, kepala daerah di seluruh Indonesia kalau dia mau jadi gubernur DKI pasti dia akan bekerja baik melayani rakyatnya. Karena dari pengalaman kami kan, kalau pengalaman kami apalagi nanti muncul lagi ini. Orang akan makin pengalaman, jadi orang akan makin tahu.

Ini akan menguntungkan siapa? Seluruh Indonesia. Sekarang parpol dan politisi Indonesia juga semakin yakin sekarang, 'Kalau saya laku, ada rakyat yang mau mendukung, kerjanya nyata, maka partai yang melamar kita, partai yang mendukung kita.' Ini dibuktikan, NasDem, Hanura, Golkar membuktikan. Jadi ini menguntungkan untuk politisi di kita.

Kalau dulu politisi punya stigma kan jelek dulu. 'Sudahlah, kalau enggak mendatangi partai maka partai enggak mungkin mendatangi kita, kalau kita enggak ada mahar. Padahal enggak semua partai pakai mahar kok, tergantung kamu laku atau enggak. Sama waktu PDIP calonkan saya sama Gerindra, waktu itu kan enggak pakai mahar juga. Dua partai ini merasa butuh mempertontonkan kepala daerah yang terbukti. Enggak pakai mahar.


(dnu/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads