Lukisan Langka Istana

Penangkapan Pangeran Diponegoro, Lukisan Tertua dan Tak Ternilai Harganya

Annisa Trimirasti - detikNews
Minggu, 31 Jul 2016 19:20 WIB
Lukisan Raden Saleh di Galeri Nasional/ Foto: Annisa Trimirasti/detikcom
Jakarta - Lukisan 'Penangkapan Pangeran Diponegoro' karya Raden Saleh merupakan lukisan tertua dari 28 lukisan langka koleksi Istana Kepresidenan yang akan dipamerkan di Galeri Nasional. Lukisan tersebut dibuat pada tahun 1857.

Lukisan itu berukuran 112 x 179 cm dan dilukis menggunakan cat minyak di kanvas. Sebelum dipamerkan, lukisan itu terpasang di dinding Ruang Pamer Utama Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Sementara di Galeri Nasional, lukisan tersebut dipamerkan di ruang kedua setelah pintu masuk. Ada sekitar 3-4 lukisan lainnya yang berada di ruang tersebut. Namun lukisan Raden Saleh berada tersendiri di satu sisi dinding ruangan.

Dikutip dari katalog lukisan 17|71: Goresan Juang Kemerdekaan, Raden Saleh melukis lukisan itu karena terinspirasi oleh lukisan pelukis Belanda bernama Nicholaas Pienemaan bertajuk Penyerahan Diri Dipo Negoro kepada Letnan Jenderal H.M. de Kock, 28 Maret 1930, yang mengakhiri Perang Jawa.
Dok. Pameran Lukisan Istana Kepresidenan

Berbeda dengan Pienemaan, lukisan ini lebih bernada nasionalisme ala Jawa sekaligus memberi gambaran tentang dramatisasi hidup sang pangeran di depan tentara penjajah. Hal ini terlihat pada judul dan sikap figur Diponegoro yang ada pada lukisan Raden Saleh.

Lukisan ini dikerjakan Raden Saleh di Belanda dan diserahkan pada Ratu Belanda. Lukisan ini mengecam sikap penjajahan di Jawa dan menuntut agar Belanda mengembalikan martabat orang Jawa. Karena itu, Raden Saleh juga menggambar dirinya dalam lukisan, sebagai seorang saksi penangkapan yang penuh kecurangan tersebut.

Lukisan ini oleh Pemerintah Belanda diberikan kepada Pemerintah Indonesia pada 1978, bersamaan dengan peristiwa kembalinya sejumlah artefak warisan budaya lainnya. Sejak itu hingga kini, karya Raden Saleh ini menjadi bagian penting di Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Lukisan langka itu tentu tak ternilai harganya. Selain punya nilai sejarah, lukisan tersebut juga merupakan koleksi negara.

"Tidak mungkin diperjualbelikan. Nilainya sangat mahal," ujar Kurator Mikke Susanto.

Selain lukisan Raden Saleh, ada lukisan lain yang juga menarik perhatian. Lukisan itu berjudul 'Memanah' karya Henk Ngantung.

Lukisan yang dibuat tahun 1943 ini berukuran 153 x 153 cm dengan menggunakan cat minyak di atas triplek.

Lukisan Memanah Henk Ngantung secara kebetulan dipakai sebagai latar belakang pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Menariknya secara formal mengonsep lukisan ini sebagai latar belakang acara konferensi pers perdana bagi bangsa yang baru merdeka.
Dok. Pameran Lukisan Istana Kepresidenan

Sukarno sendiri yang menemukan lukisan ini. Pertama kali melihat lukisan ini pada 1944, tepatnya pada pameran yang diadakan Keimin Bunka Sidhoso, Jakarta. Begitu pameran usai, Sukarno diam-diam bertandang ke studio Henk dan menyampaikan niat untuk membelinya.

Namun Henk mengaku lukisannya itu belum selesai. Sebab ada bagian lengan yang belum sempurna untuk menyelesaikan harus ada model.

Seketika itu juga Sukarno menawarkan diri jadi modelnya dan Henk tidak bisa menolak. Setelah lukisan itu selesai Sukarno membawanya ke rumah, di Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Menurut Mikke, lukisan tersebut juga tidak ternilai harganya. "Lukisan Henk Ngantung adalah satu-satunya lukisan yang rusak dan dibuat produksi ulang karena tripleknya rusak," ungkap Mikke. (ega/mad)