Mojokerto merupakan kota ketiga setelah Kota Malang dan Kabupaten Sidoarjo yang menjadi lokasi ujicoba penerapan bantuan sosial non-tunai dengan layanan e-Warung.
Mensos mengatakan program e-Warung KUBE PKH menerapkan pengelolaan keuangan secara digital dalam menyalurkan bantuan sosial non tunai, dirancang untuk menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari dengan harga murah bagi peserta PKH dan penerima manfaat Rastra, dan juga sebagai tempat pemasaran produk-produk KUBE dan hasil usaha peserta PKH, dan atau dari Bulog.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Jawa Timur yang sering terjadi rastra, beras dibagi rata. Nantinya kalau sudah menggunakan layanan e-Warung tidak boleh lagi seperti itu. Lalu ada yg menerima raskin rusak, berkutu atau kecoklatan, dengan e-Warung dipastikan itu tidak akan ada lagi. Ibu-ibu bisa memilih sendiri jenis beras yang diinginkan," ujar Mensos.
Selain untuk membeli beras, lanjut Khofifah, uang tersebut dapat dibelanjakan gula, minyak goreng, dan tepung.
"Kalau ada sisa, uangnya tidak hilang. Bisa menjadi tabungan ibu-ibu," katanya.
Sementara itu direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin, Andi Dulung mengungkapkan pengembangan program e-Warung ini akan terus diperluas.
"Diupayakan mencapai 300 e-Warung pada 2016 dan Pada 2017 ditargetkan sebanyak 3.000 e-Warung dapat tersebar di seluruh Indonesia," kata Andi.
Pada kesempatan yang sama, Walikota Mojokerto Mas'ud Yunus mengungkapkan di wilayahnya terdapat 3 kecamatan, 18 kelurahan, dengan jumlah penduduk sebanyak 138.624 jiwa. Sebanyak 851 orang adalah penerima bantuan sosial PKH.
"Semoga bantuan sosial ini dapat bermanfaat sebesar-besarnya untuk keluarga prasejahtera di Mojokerto," tambahnya.
(ads/bag)











































