Sandiaga bisa saja tak menjadi calon gubernur bila Gerindra berkoalisi dengan PDIP, melainkan cukup menjadi calon wakil gubernur. Sebagaimana diketahui, kursi yang dimiliki Gerindra di DKI kurang banyak ketimbang PDIP, yakni 15 kursi dibanding 28 kursi. PDIP adalah satu-satunya partai yang bisa mencalonkan nama ke Pilgub DKI 2017 tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.
"Kita berharap berkoalisi dengan PDIP, ini prioritas pertama," Ketua Tim Penjaringan Cagub DKI Gerindra, Syarif, kepada detikcom, Sabtu (30/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dengan PDIP maka kita mengajukan DKI 2. Bila tanpa PDIP maka kita mengajukan DKI 1 bersama mitra koalisi ikut mendorong," kata Syarif.
Pertama, bila dengan PDIP, Gerindra ingin mengajukan Sandiaga sebagai cawagub saja. Gerindra DKI membutuhkan sosok pemimpin yang punya pengalaman baik di bidang pemerintahan daerah.
"Kita butuh leader yang punya rekam jejak, mungkin Pak Djarot berpeluang. Ataupun kalau Bu Risma ditugaskan partainya, kami juga menerima," ujar Syarif.
Bila PDIP tak bersedia berkoalisi dengan Gerindra, maka Gerindra tentu akan memperjuangkan Sandiaga sebagi cagub agar bisa memenangkan Pilgub DKI 2017, dengan cawagub yang akan ditentukan bersama mitra koalisi. Syarif menyebut kondisi ini sebagai 'pintu keluar darurat'.
"Kalau PDIP enggak kunjung memutuskan ya kita emergency exit," ucapnya.
Pihaknya sudah melakukan penjajakan dengan PDIP, PKB, PAN, Partai Demokrat, dan PPP di level DKI. PKS disebut Syarif sebagai parpol yang sudah memastikan berkeinginan berkoalisi dengan Partai Gerindra.
"Proses yang dilakukan di level daerah sudah selesai. Sekarang sudah di level pusat. Rencananya, berdasarkan jadwal yang kami susun, 7 Agustus sudah diumumkan pasangan cagub beserta cawagubnya," kata Syarif. (dnu/dnu)










































