"PBNU menilai bahwa apa yang digagas oleh Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Mu'tabaroh An-Nahdliyyah sangat tepat di tengah semakin memudarnya nilai-nilai nasionalisme di masyarakat," kata Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (30/1/2016).
PBNU mencatat setidaknya ada tiga nilai utama terkait konferensi tersebut. Mulai dari konsepsi cinta tanah air hingga dakwah dengan cara yang santun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kedua, Islam nusantara, sebagaimana Islam yang dibawa oleh Wali Songo sangat akomodatif dan kompromistis terhadap budaya lokal. Ini adalah bukti faktual bahwa Islam tersebut bersifat Rahmatan Lil Aalamin," jelasnya.
Sementara poin terakhir adalah pada umumnya ulama-ulama atau habib di Indonesia menggunakan jalan dakwah yang santun dan ramah.
"Metode dakwah seperti ini tentu sangat lebih efektif dibandingkan metode dakwah lainnya semisal dengan cara memaksakan kehendak," tuturnya.
(rna/dnu)











































