Menurut Syafii, Jokowi dihadapkan pada pilihan sulit. Di satu sisi paham yang dianut adalah presidensiil tapi pada akhirnya harus mempraktikan sistem parlementer.
"Akan sulit ini. (reshuffle) Ini masih menghitung jatah kursi partai. Dan menteri-menteri partai itu kan banyak yang tidak berdasar kompetensi dan integritas. Hanya kepentingan pragmatis partai saja," tegasnya di sela-sela Dialog Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan Isis di Kampus UMY Yogyakarta, Kamis, (28/07/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan hanya punya waktu tiga tahun. Maksimal mereka bisa kerja itu dua tahun. (diakhir jabatan) Mereka akan disibukan dengan persiapan pemilu," tambahnya.
Demi memaksimalkan kinerja kabinet hasil reshuffle jilid II ini, Syafii berharap adanya kekompakan dan kerja keras para menteri.
"Harus kompak. Jangan lagi ada kegaduhan. Yang kemarin itu kan antar menteri berhadap-hadapan. Saling kritik. Itu menghabiskan energi," ujar mantan Ketua Tim Sembilan bentukan Jokowi ini. (dra/dra)











































