Abah Jani, Seniman Wayang Golek Pengisi Museum Wayang Purwakarta

Abah Jani, Seniman Wayang Golek Pengisi Museum Wayang Purwakarta

Tri Ispranoto - detikNews
Kamis, 28 Jul 2016 16:21 WIB
Abah Jani, Seniman Wayang Golek Pengisi Museum Wayang Purwakarta
Abah Jani (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Purwakarta - Bagi seorang seniman inspirasi adalah sumber penting baginya untuk menghasilkan sebuah karya. Inspirasi tidak hanya terpaku pada melihat pola kehidupan namun juga bisa timbul di sebuah tempat yang memberi mereka kenyamanan.

Hal itulah yang dirasakan oleh Abah Jani (54), seorang seniman pembuat wayang golek yang tengah mengerjakan 100 wayang untuk mengisi Museum Wayang Purwakarta. Sebagai seniman dia memilih Pendopo Kabupaten Purwakarta sebagai tempat mencari inspirasi dibanding mengerjakan pesanan wayang di rumahnya atau di tempat lain.

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

Kakek kelahiran 1962 ini sudah sejak Juni lalu mengerjakan wayang-wayang tersebut. Dia lebih memilih di lingkungan Pendopo seperti di Taman Maya Datar atau pun di depan Bale Nagri sebagai 'bengkel' tempatnya bekerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pilih mengerjakan di sini karena suasananya tenang, bersih, dan nyaman," ucap Abah Jani saat berbincang dengan detikcom di Pendopo Kabupaten Purwakarta, Kamis (28/7/2016).

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

Sebagai seniman, kata Abah Jani, tempat bisa menjadi faktor penting baginya untuk berkarya. Pasalnya dalam proses pengerjaan wayang dia tidak bisa diburu-buru karena hal tersebut tergantung pada mood dan suasana tempatnya bekerja.

"Ya namanya juga seni, tidak bisa ditentukan kapan selesai. Ada waktunya semangat, ada malesnya juga. Tapi saya sudah sebulan di sini belum ada malasnya," katanya.

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

Saat ini Abah Jani tengah dipercaya sebagai seniman yang mengerjakan wayang golek untuk dipajang di museum. Satu set wayang pentas atau kurang lebih 100 buah sudah mulai dia kerjakan sejak Juni lalu.

Dalam hitungan normal, satu buah wayang berbahan dasar kayu pule akan menghabiskan waktu satu hingga dua minggu. Hal itu tergantung ukuran, bentuk, dan detail dari tokoh pewayangan yang dibuatnya.

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

"Yang paling susah membuat Arimba dan Batarakala itu bisa sampai dua minggu. Kalau yang gampang palingan Punakawan, kaya Si Cepot itu paling enam hari selesai," jelas pria yang telah menggeluti seni pembuatan wayang golek sejak tahun 1980 itu.

Hingga saat ini sedikitnya sudah ada 18 wayang golek buatannya yang telah selesai dan siap dipajang. Sisanya masih terus dia kerjakan sembari menunggu Museum Wayang Nusantara selesai dibangun bersama museum lainnya seperti Museum Nusantara dan Museum Ki Sunda yang rencananya sama-sama akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Foto: Tri Ispranoto/detikcom
(trw/trw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini