Perjalanan Panjang Loncatan Politik Ahok

Panasnya Pilgub DKI

Perjalanan Panjang Loncatan Politik Ahok

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kamis, 28 Jul 2016 15:14 WIB
Perjalanan Panjang Loncatan Politik Ahok
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) semakin mengukuhkan dirinya jadi politikus ulung yang piawai membaca peluang. Manuver berlikunya menjelang Pilgub DKI adalah buktinya. Perjalanan karier Ahok di panggung politik pun menjadi disimak.

Ahok adalah seorang politikus yang berlatar belakang pengusaha. Dia adalah pendiri perusahaan PT Nurinda Ekapersada (1992) yang menjadi cikal bakal dari pabrik Gravel Pack Sand (1995). Menginjak tahun 1995 Ahok mengalami diskriminasi akibat kesewenang-wenangan pejabat. Rasa sakit hati itu kemudian sedikit demi sedikit menggerakkan niat Ahok untuk membenahi dunia politik di Indonesia.

Hingga pada tahun 2003 niat Ahok terjun ke dunia politik akhirnya benar-benar bulat. Dia mencicipi pertarungan perdana di panggung politik di Pemilu 2004 dengan maju sebagai calon anggota DPRD kabupaten Belitung Timur lewat Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB). Ahok sukses masuk parlemen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun setahun kemudian, pada tahun 2015 Ahok ikut kontestasi pemilihan kepala daerah Belitung Timur. Ahok berhasil memenangkan Pilkada dan dilantik menjadi Bupati Belitung Timur. Selama dua tahun memerintah, Ahok lalu didorong lagi untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung. Kali ini Ahok gagal.

Namun kegagalan tak membuat Ahok berhenti berpolitik. Ahok akhirnya berlabuh ke Partai Golkar dan ia sukses terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. Ahok kemudian duduk di Komisi II DPR, di Komisi II DPR ia mulai terkenal sebagai anggota yang vokal dan ceplas-ceplos, yang patut diapresiasi dia juga selalu melaporkan keuangannya lewat situs pribadi miliknya.

Namun Ahok tak betah lama-lama duduk di kursi DPR. Pada tahun 2012 ia tergoda maju Pilgub DKI. Ahok awalnya mencari jalan lewat jalur independen namun akhirnya Ahok menerima tawaran Gerindra untuk maju Pilgub DKI dipasangkan dengan Joko Widodo yang saat itu menjabat Wali Kota Surakarta, yang diusung PDI Perjuangan. Ahok pun meninggalkan Golkar dan kursi Komisi II DPR.

Duet Jokowi-Ahok sukses memenangkan Pilgub DKI setelah menaklukkan calon incumbent Fauzi Bowo (Foke) yang berduet dengan Nachrowi Ramli. Jokowi-Ahok memimpin DKI dengan banyak perubahan-perubahan strategis.

Dua tahun berselang Ahok terlibat perbedaan pendapat dengan Gerindra soal sistem pemilihan kepala daerah. Akhirnya Ahok benar-benar meninggalkan Gerindra. Kala itu Ahok menegaskan dirinya tak bisa loyal dengan partai yang tak sesuai konstitusi.

"Dari awal saya bilang saya gak pernah loyal sama partai yang tidak sesuai dengan konstitusi. Kalau Gerindra punya pandangan konstitusi tentang pilkada lewat DPRD, kenapa waktu menarik saya dari Golkar mengatakan kita perjuangkan pilihan rakyat?," ucap putra sulung Indra Tjahaja Purnama itu di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (9/9/2014). Ahok pun langsung mengirimkan surat pengunduran dirinya ke Gerindra dan surat itu langsung disetujui. Gerindra pun mengucapkan selamat tinggal ke Ahok.

Perjalanan politik menarik Ahok tak hanya sampai di situ. Setelah Jokowi-JK memenangkan Pilpres 2014, pada Oktober 2014 Ahok dilantik jadi Gubernur DKI, dan disiniliah permainan politik yang lebih seru dimulai. Setelah keluar dari Gerindra, Ahok lebih dekat dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, sampai kemudian PDIP memutuskan menempatkan Djarot Saiful Hidayat sebagai cagub DKI pendamping Ahok. Djarot pernah menjabat Bupati Blitar selama dua periode.

Ahok nyaris tak bermanuver di awal menjabat Gubernur DKI, sampai kemudian pembicaraan soal Pilgub DKI 2017 memanas. Sampai muncullah niat Ahok maju Pilgub DKI lewat jalur independen. Manuver Ahok ini menggemparkan bahkan sempat ditulis oleh sejumlah media asing.

Muncullah relawan yang mendorong Ahok maju lewat jalur independen. Relawan yang menamakan dirinya 'Teman Ahok' ini mulai mengajak warga DKI mengumpulkan dukungan KTP untuk Ahok kisaran bulan Juni 2015 silam, sangat jauh dari Pilgub yang baru akan digelar Februari 2017 nanti.

Teman Ahok pun terus mengumpulkan KTP dukungan untuk Ahok. Seiring semakin bertambah banyaknya KTP dukungan, Ahok pun menegaskan dirinya akan maju lewat jalur independen.

"Saya akan menempuh jalur independen, dengan segala risiko. Sekarang kan saya sudah independen lawan semuanya (oknum koruptor dan sebagainya)," ujar Ahok di Hotel Millenium, Jl Fachruddin 3, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2015). Setelah dukungan KTP cukup untuk mengusung Ahok, sang gubernur DKI kembali bicara dirinya akan maju lewat jalur independen kalau sudah 1 juta KTP terkumpul.

Sementara itu sejumlah parpol seperti NasDem dan Hanura sudah menyatakan dukungan untuk Ahok maju Pilgub DKI. Sebenernya saat itu PDIP juga berminat mengusung Ahok maju Pilgub DKI dan mengusung kembali duet Ahok-Djarot, namun demikian niat itu kandas karena PDIP merasa tidak dihormati dengan pernyataan Ahok yang memberi tenggat waktu PDIP menyatakan dukungan ke Ahok.

Pengumpulan KTP dukungan untuk Ahok pun terus dilakukan Teman Ahok. Pada 19 Juni 2016 Teman Ahok berhasil mengumpulkan KTP dukungan untuk Ahok. Namun saat sejuta KTP dukungan terkumpul, Ahok justru menyatakan kesiapan maju diusung parpol. Yang menarik, Teman Ahok sudah legowo dan maju lewat independen tak lagi harga mati buat Ahok.

Waktu terus bergulir sampai kemudian Teman Ahok menggelar silaturahmi dengan parpol pendukung Ahok seperti Golkar, NasDem, dan Hanura, pada Rabu (27/7/2016) malam tadi. Dan Ahok pun mengambil keputusan penting soal jalur politik ke Pilgub DKI di forum penting itu.

"Sudah, saya pakai parpol saja lah. Terimakasih," kata Ahok di pengujung sambutannya dalam halal bihalal di Sekretariat Teman Ahok, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (27/7/2016).

Tiga parpol pendukung menyatakan siap menyukseskan Ahok, mereka adalah Partai NasDem, Partai Hanura, dan Partai Golkar. Para elitenya berkumpul di tempat ini. Begitu pula Teman Ahok.

"Kami menghargai dan mendukung keputusan Ahok, setelah kami lakukan dialog dengan Basuki Tjahaja Purnama, perwakilan tiga partai pendukung, Akhirnya Ahok memutuskan untuk maju menggunakan kendaraan partai politik bersama Teman Ahok," kata juru bicara Teman Ahok Amalia Ayuningtyas.

Nusron Wahid yang saat ini menjabat Ketua Koordinator Pemenangan Pemilu DPP Golkar ditunjuk sebagai ketua tim sukses pemenangan Ahok. Namun Ahok masih akan menemui Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk 'loncatan' terakhir sebelum Pilgub DKI.

Lalu ke mana lagi Ahok akan meloncat?


(van/trw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads