Kepada wartawan di gedung Kemendikbud, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (27/7/2016), Muhadjir menceritakan bagaimana awal mulanya.
"Sekitar jam 07.30 WIB (Selasa)," kata dia memberitahu saat dikontak Istana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Baru mau berangkat sini (Jakarta) saja saya beritahu (istri)," kata ayah 3 anak ini.
"Saya kebetulan kalau yang sifatnya dinas, karier, saya enggak pernah sampaikan ke keluarga. Kadang istri saya enggak tahu," sambung dia.
Hingga kemudian dia ditunjuk menjadi Mendikbud. Muhadjir yang pernah menjadi wartawan kampus ini mengaku siap melanjutkan jejak Anies Baswedan, mulai dari masuk kantor pukul tujuh pagi hingga melaksanakan program-program lainnya.
"Jadi saya akan mencoba untul tidak menjadi orang yang membikin baru sama sekali. Saya yakin siapa pun yang pernah menjabat di sini baik Pak Anies atau siapa pun pasti sudah membuat sesuatu yang sangat baik untuk ukuran waktu itu. Dan memang harus ada kesinambungan. Hanya mungkin ada intonasi atau stressing. Istilahnya mobil ada bannya kempes, ya bannya aja yang dikerasin enggak usah turunkan mesin. Misalnya spionnya koclak ya spionnya aja diganti enggak usah ganti mobil baru kan," urai guru besar Sosiologi Universitas Negeri Malang ini.
Muhadjir juga menegaskan dia menjadi Mendikbud tidak mewakili partai tetapi mewakili profesi sebagai guru yang merupakan kariernya selama ini.
"Saya memang punya background bidang pendidikan dan keguruan, kerja saya dosen juga di bidang pendidikan kemudian saya juga pernah menjadi pembantu rektor III selama 12 tahun, jadi rektor 16 tahun. Saya kita itu yang dinilai Pak Jokowi menginstal saya di sini. Jadi saya pikir harus menggunakan profesionalitas saya untuk membantu Pak Presiden. Dan saya tidak punya visi, yang punya visi Presiden. Jadi saya akan menterjemahkan apa yang ada di benak Presiden," tutup Muhadjir. (dra/dra)










































