Siswa SMK di Semarang Tak Naik Kelas karena Nilai Agama Kosong

ADVERTISEMENT

Siswa SMK di Semarang Tak Naik Kelas karena Nilai Agama Kosong

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 27 Jul 2016 13:05 WIB
Foto: Angling/detikcom
Semarang - ZL, siswa SMK N 7 Semarang tengah menjadi perbincangan hangat. Banyak yang membicarakan perihal kasus yang menimpanya. ZL tak naik kelas karena nilai agamanya kosong.

Tak naik kelasnya ZL ini berawal dari nilai agama yang kosong. Detikcom mengklarifikasi kasus ini ke sekolah SMK N 7 Semarang pada Selasa (26/7).

Pihak sekolah memberikan penjelasan. Sebenarnya ZL sudah diberikan pilihan agar mengikuti prosedur.

"Pada saat kelas 1 (X) yang bersangkutan mengikuti pelajaran agama Islam, tapi saat pelajaran praktik berupa baca Al Quran dan salat, yang bersangkutan tidak bersedia dengan alasan yang bersangkutan penganut kepercayaan," kata Kepala SMK N 7 Semarang, Sudarmanto.

Sudarmanto mengatakan saat mendaftar masuk ke SMK N 7 Semarang, ZL mencantumkan Islam ke dalam kolom Agama sesuai dalam kartu keluarga. Kemudian ketika kelas X, ZL mengikuti Pelajaran Agama Islam (PAI) dalam mata pelajaran agama dan budi pekerti berupa teori.

Pihak sekolahan beberapa kali memanggil orang tua ZL dan mengatakan kalau tidak mengikuti praktik pelajaran agama maka tidak bisa naik kelas. Maka sesuai dengan kriteria tersebut, maka ZL tidak naik kelas.

"Sesuai kriteria kenaikan kelas, karena yang bersangkutan tidak memiliki nilai pelajaran tersebut, sehingga yang bersangkutan tidak bisa naik kelas," terangnya.

Beberapa langkah sudah diambil sekolahan salah satunya melakukan mediasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang dan Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan YME Indonesia (MLKI). Tapi ZL bergeming, dia tetap tak ikut aturan sekolah.

Sedang Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin yang menyambangi SMK N 7 memberi penjelasan. Tidak naik kelasnya ZL bukan karena ZL penghayat aliran kepercayaan, namun karena nilai yang kosong.

"Bukan karena penganut kepercayaan terus tidak naik kelas. Itu nilai kosong, kan akademis," ujar Bunyamin yang berkunjung ke SMK N 7 Semarang.

Ia menerangkan, dalam pendidikan Agama di sekolahan, sesuai aturan memang ada enam, sedangkan aliran kepercayaan belum punya standar kompetensi. Aturannya, pada pelajaran agama, harus diajar oleh pengajar yang beragama sama.

"Aliran kepercayaan kita belum punya standar kompetensi. Misal anak agama Budha, kita tidak ada pengajar, maka akan kita carikan. Aturan mendapatkan pendidikan agama dan diajar oleh guru seagama. Kami bicaranya yang aturan," terang Bunyamin. (alg/dra)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT