Selain itu bisa juga melalui media kebudayaan. Itu merupakan sebuah bentuk diplomasi publik yang cukup ampuh.
Maka dari itu, ketika Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi masih menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Retno sangat getol untuk mempromosikan Indonesia melalui media makanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retno juga menjelaskan ketika dirinya menjadi dubes di Belanda, ia sering kali mengundang para chef Indonesia untuk memberikan cita rasa lain kepada makanan Indonesia saat ada acara kenegaraan. Dalam diplomacy food yang ia jalankan, Retno menginginkan agar makanan Indonesia tidak saja yang dikenal itu nasi goreng dan sate tapi juga lainnya.
"Kita juga datangkan chef untuk mereka untuk memberikan pengetahuan bahwa makanan Indonesia itu tidak hanya nasi goreng dan sate, kita bawa misalnya asam padeh, kemudian juga cucur. Kalau namanya nasi goreng itu orang harus sudah punya bayangan. Kalau misalnya mau makan tom yam. Orang udah punya bayangan, oh rasanya gini," lanjutnya.
Dari situ menurut Retno, Pemerintah Indonesia sangat berpihak kepada para penjual yang menjual makanan Indonesia atau bumbu-bumbu makanan Indonesia di luar negeri.
"Mereka kan berbisnis. Namun kita sebagai pemerintah juga mempunyai bentuk dukungan seperti itu (diplomacy food) untuk selain mengenalkan Indonesia juga mengenalkan warung-warung Indonesia yang ada di negara lain," tutup Retno. (yds/dra)











































