DetikNews
Selasa 26 Juli 2016, 11:28 WIB

Jejak Arca Semar di Situs Megalitik Pelabuhan Ratu, Apa Maknanya?

Herianto Batubara - detikNews
Jejak Arca Semar di Situs Megalitik Pelabuhan Ratu, Apa Maknanya? Foto: istimewa/ Kepala Dinas Kepariwisataan, Kebudayaan Kabupaten Sukabumi Akhmad Riyad
Sukabumi - Penemuan arca Semar di situs megalitik Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat mengungkap informasi baru. Semar merupakan tokoh punakawan yang amat populer. Tapi mungkin banyak yang belum tahu juga, kalau Semar ini merupakan tokoh asli Indonesia, bukan dari kisah Mahabarata atau Ramayana dari India.

"Banyak versi soal Semar. Tapi lebih banyak berupa mitos. Biasanya mitos tersebut terkait Batara Tunggal dan juga Togog. Versi lain menyatakan Semar mulai muncul ketika penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati di Cirebon. Sementara itu di Jawa Timur juga terdapat mitos yang serupa," jelas Arkeolog Ali Akbar, Selasa (27/7/2016).

"Yang pasti Semar saat ini populer tidak hanya di Jawa tetapi juga pulau-pulau lain di Indonesia. Sepertinya masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan tokoh ini," sambung Ali yang juga Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia dan pengajar di UI ini.

Ali menyampaikan berbagai macam versi soal Semar memang muncul dalam berbagai cerita. Ada yang berdasarkan versi era Islam sebagai salah satu metode penyebaran agama lewat budaya, ada juga yang menjabarkan Semar dalam periode Hindu dan Budha dikaitkan dengan Batara Tunggal.

"Namun, berdasarkan bukti artefak ternyata terdapat bukti bahwa Semar telah dikenal sejak periode yang lebih tua, yakni prasejarah," urai dia.

Dengan penemuan di situs megalitik Pelabuhan Ratu ini, dan Ali melanjutkan, juga ada relief pada menhir di Situs Batu Naga Kabupaten Kuningan.

"Awal mulanya kemungkinan terkait nenek moyang. Beberapa arca yang mengarah pada bentuk arca tipe Semar ditemukan di situs-situs megalitik di Jawa Barat dan Banten. Beberapa gambar yang dibuat peneliti Belanda menunjukkan pada masa lalu arca seperti ini ditempatkan di struktur megalitik. Mengingat ukurannya yang tidak terlalu besar dan dapat dipindahkan, maka artefak ini akhirnya sering tidak lagi berada di tempat aslinya. Dengan lain perkataan, situs-situs megalitik seperti punden berundak terbuka kemungkinan dahulu terdapat arca di tempat peribadatan tersebut," urai dia.

Karena ada di situs megalitik, arca perwujudan Semar ini lebih tua dari candi, ketika kebudayaan Hindu dan Buddha belum masuk ke Indonesia.

"Semar tidak ada dalam kisah Mahabrata dan Ramayana. Sepertinya penyebar kebudayaan Hindu dan Buddha tetap menyertakan tokoh Semar karena tokoh ini telah terkenal sejak periode sebelumnya," tutur dia.
(dra/dra)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed