Bogor, Kota Pertama Penerima Tantangan Berbagi Buku untuk Tuna Netra

Jabbar Ramdhani - detikNews
Senin, 25 Jul 2016 13:25 WIB
Presdir IBM Indonesia Gunawan Susanto (kiri), Walikota Bogor Bima Arya (tengah), Ketua Pembina Yayasan Mitra Keluarga, Anita Ratnasari Tanjung (kanan)/Foto: Jabbar Ramdhani
Bogor, - Kota Bogor menjadi kota pertama penerima tantangan berbagi buku untuk tuna netra. Tantangan ini adalah sebuah program yang digulirkan untuk memperbanyak buku braile untuk tuna netra.

Walikota Bogor, Bima Arya menyambut tantangan ini dengan mengapresiasi program tantangan berbagi buku untuk tuna netra. Bima Arya melihat peran penting buku bagi kehidupan manusia. Progam 'Tantangan Berbagi Buku untuk Indonesia' ini diinisiasi oleh perusahaan komputer IBM bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra.

"Saya ditantang dangdut aja berani, apalagi ditantang untuk hal yang mulia seperti ini. Buku jendela dunia, melalui buku kita berkenalan dunia. Empati kita terasah. Saya merasakan sengsara hidup ini tanpa buku," ujar Bima Arya di Balaikota Bogor, Jl Ir H Juanda, Bogor, Senin (25/7/2016).

Bima Arya didampingi Anita dan Gunawan mengecek buku braile
Ia melanjutkan, alasan Bogor menerima tantangan ini adalah agar penyandang disabilitas tuna netra juga dapat membaca buku. Ia juga berharap kegiatan ini menular ke kota lainnya.

"Kita ingin saudara kita perluas wawasan dan gunakan buku sebagai jendela dunia. Kedua adalah semangat kerelawanan, agar berbuat bermanfaat untuk org lain. Makin banyak jumlah buku yang bisa diakses oleh teman kita yg tuna netra. Kita berharap kegiatan ini menular kemana-mana," ujar Bima.

Di tempat yang sama juga hadir Ketua Pembina Yayasan Mitra Keluarga, Anita Ratnasari Tanjung. Anita berpendapat sama dengan dengan Bima. Menurutnya, buku memiliki peranan penting karena berisi informasi dan sumber inspirasi.

Bima memukul gong tanda diterimanya tantangan berbagi buku braile
"Buku adalah pilar pendidikan. Buku adalah sumber informasi dan inspirasi. Persaingan saat ini sangat ketat, kita ingin agar tuna netra membaca buku. Agar tidak tertinggal dan ditinggal," kata Anita.

Mita Netra, lanjut Anita, didirikan tahun 1991 terus berusaha memberikan perhatian kepada penyandang disabilitas tuna netra dengan solusi berbasis teknologi. Sebagai kelanjutan, mereka bekerja sama dengan IBM untuk menghadirkan buku digital kepada penyandang disabilitas tuna netra.

"Berawal dari produksi dan distribusi audio buku dan braile, kita tahun ini berusaha dengan menghadirkan buku digital epub. Buku ini dapat diakses perpustakaan online hasil kerja sama Mitra Netra dan IBM," katanya.

Program tantangan berbagi buku ini dicanangkan di Kementerian Koordinator bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan pada tanggal 17 Mei 2016. Program ini nantinya akan dilangsungkan di berbagai kota.

Layaknya "ice bucket challange", dari satu kota yang sudah menjalankan tantangan berbagi buku untuk tuna netra, akan diminta menunjuk kota lainnya untuk menjalankan tantangan ini.

Program ini berlatar belakang banyaknya penyandang Tuna Netra di Indonesia yang mencapai 3,5 juta orang, dan berbanding terbalik dengan jumlah buku braile berbahasa Indonesia. Merujuk data yang didapat IBM, saat ini koleksi buku braile berbahasa Indonesia hanya ada sekitar dua ribu saja. Hal ini membuat para tuna netra memiliki keterbatasan.

Tak hanya buku braile saja, IMB Indonesia juga akan membuat aplikasi audio book yang bisa diakses tuna netra di seluruh indonesia. Kedua hal tersebut akan didapat melalui ajang tantangan mengetik ulang buku yang bisa diikuti para siswa, mahasiswa, komunitas hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Untuk kota Bogor sendiri sudah tercatat ada 500 relawan yang terdiri dari siswa-siswi, karang taruna, pekerja dan pegawai pemerintahan. Relawan ini bersedia untuk mengetik ulang buku konvensional ke dalam format digital. Kemudian akan diunggah melalui situs seribubuku.kebi.or.id. Sehingga kemudian buku ini dapat diakses melalui jaringan internet.

"Mari kita memanfaatkan teknologi dan mengembangkannya untuk kualitas hidup agar lebih maju dan mencerdaskan tuna netra. Tuna netra harus jadi aset, bukan beban negara. Mitra Netra mendukung saudara tuna netra untuk belajar dan terus maju. Dengan jari, relawan berbagi cinta. Dengan jari, tuna netra melihat dunia," kata Anita.

Dalam acara ini juga turut hadir Wakil Walikota Bogor Usman Hariman, Presiden Direktur IBM Indonesia Gunawan Susanto, Perwakilan Kemenko PMK, Ketua Yayasan Mitra Netra Bambang Basuki dan Ketua Pehimpunan Tuna Netra Seluruh Indonesia (Pertuni) Aria Indrawati.


(fjp/fjp)