"Enggak bisa diharapkan berkurang setengah. Jadi saya kira kemacetan ya mirip saja," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (25/7/2016).
Dia menjelaskan sistem ganjil-genap adalah transisi menuju pemberlakuan sistem jalanan berbayar alias Electronic Road Pricing (ERP). Sistem ganjil-genap berdasarkan nomor polisi kendaraan bermotor itu diharapkan bisa mengurangi kemacetan hingga 50 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira dengan ganjil-genap ya pengalaman dunia itu paling hanya bisa mengurangi 20 persen. Jadi walaupun ganjil-genap ada (ditargetkan mengurangi kemacetan) 50 persen, praktiknya enggak mungkin bisa pas 50 persen berkurang volumenya. Paling jadi ya 20 persen saya kira," tutur Ahok.
Efektivitas sistem ini juga bergantung kepada berapa jumlah mobil yang dimiliki pengguna jalan. Bila orang kaya, tentu tak sulit untuk membeli mobil lagi untuk menyiasati sistem pembatasan ganjil-genap.
"Kalau yang punya duit, dia langsung beli dua mobil. Jadi enggak bisa diharapkan ganjil-genap bagi rata setengah-setengah (kemacetan berkurang 50 persen)," kata Ahok. (dnu/aan)











































