Selama seminggu ini, di depan city hall Seoul dipamerkan aneka selongsong peluru karatan. Bukan hanya pelor kosong, namun juga mortir kosong, granat rusak dan lainnya. Ada yang ditumpuk begitu saja, namun tidak sedikit yang ditata dan dijejer apik di atas meja. Unik.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Semua orang yang lewat, setidaknya akan melongok. Ada juga yang mengamati lalu diskusi. Maklumlah, selongsong peluru ini tidak jamak. Wajahnya sudah karatan tebal dan tidak bertaji lagi. Alias tidak punya "nyawa". Namun di balik wujudnya yang kumal dan tidak menarik itu, tak seorangpun tahu sudah berapa jiwa melayang karenanya. Pelor-pelor itu sangat angker dan keji di zamannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Please, tahan dulu bicara dulu soal K-Pop dan operasi plastik yang bikin cewek Korea mencorong. Sebab, masih sering dilupakan, Republik Korea ini saat sekarang masih dalam keadaan siaga perang dengan saudaranya di Korea Utara. Ada jutaan pelor-pelor yang masih bermesiu dan berisi nuklir sangat mungkin untuk kembali mengulang sejarah: menembus jantung dan mencabik-cabik jutaan raga manusia. Bila itu terjadi, yang bisa dipastikan hanyalah kerugian yang maha hebat.
Saya pun jadi teringat dengan sebuah diskusi di wilayah perbatasan antara kedua negara beberapa bulan silam. Di DMZ (demilitarized zone) itu, seorang dosen ber-casciscus-ria tentang "kerinduan" unifikasi antara "Utara" dan "Selatan". Sebuah keindahan kehidupan yang akan penuh dengan kemakmuran.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Teorinya, apabila kedua negara itu menjadi satu maka pertumbuhan ekonomi di Asia Timur akan sangat terbantu oleh kemajuan pesat di Semenanjung Korea. Dunia juga akan ikut tertawa ceria.
Yang tidak pernah dibicarakan adalah bagaimana kedua belah pihak bisa bersatu dalam perbedaan prinsip. Manakala yang diinginkan adalah sebuah konsep "menang-kalah", dan bukan "solusi menang-menang", maka rasanya itu semua masih utopia, jauh panggang dari api. Masih akan terus terjadi provokasi dan agitasi. Dan, moncong-moncong pelor bermesiu itu akan terus siap diluncurkan untuk merobek-robek peradaban manusia.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Pelor-pelor karatan di depan city hall Seoul itu saya duga, dimaksudkan untuk menggugah hati nurani manusia untuk tidak jemawa, merasa hebat sendiri lalu menghalalkan darah orang lain. Pelor-pelor itu membawa sebuah peringatan yang sangat kuat bahwa kehidupan manusia harus terus berlanjut dengan keharmonisan yang makin tinggi. Era saling membunuh sudah harus ditinggalkan karena tidak akan memberikan manfaat apapun.
Pesan kuat pelor-pelor karatan itu terlihat kuat di sebagian pucuk-pucuknya. Diantara pelor yang karatan itu berkembang beberapa daun hijau yang begitu menyolok mata. Ini menandakan bahwa saat ini, sekali lagi, zaman pelor sudah "karatan", sudah berlalu. Kini kita memasuki zaman daun hijau yang menyejukkan hati umat manusia. Sebuah pesan universal bagi bangsa Korea, Asia, Eropa, Afrika, Australia, Amerika dan tentu juga bagi kita di Indonesia.
Penulis adalah WNI tinggal di Korsel (ajimoscovic@gmail.com) (try/try)












































Foto: M Aji Surya/detikcom
Foto: M Aji Surya/detikcom
Foto: M Aji Surya/detikcom
Foto: M Aji Surya/detikcom