Ketika Pelor Karatan Berbicara

Anyonghaseo (23)

Ketika Pelor Karatan Berbicara

M Aji Surya* - detikNews
Senin, 25 Jul 2016 12:52 WIB
Ketika Pelor Karatan Berbicara
Foto: M Aji Surya/detikcom
Seoul - Anyonghaseo. Sifat lupa memang penting dalam hidup. Tapi melupakan sejarah bisa membuat manusia menjadi kurang bijak. Untuk membangunkan ingatan diperlukan cara-cara yang unik, inovatif dan artistik.

Selama seminggu ini, di depan city hall Seoul dipamerkan aneka selongsong peluru karatan. Bukan hanya pelor kosong, namun juga mortir kosong, granat rusak dan lainnya. Ada yang ditumpuk begitu saja, namun tidak sedikit yang ditata dan dijejer apik di atas meja. Unik.

Foto: M Aji Surya/detikcom

Semua orang yang lewat, setidaknya akan melongok. Ada juga yang mengamati lalu diskusi. Maklumlah, selongsong peluru ini tidak jamak. Wajahnya sudah karatan tebal dan tidak bertaji lagi. Alias tidak punya "nyawa". Namun di balik wujudnya yang kumal dan tidak menarik itu, tak seorangpun tahu sudah berapa jiwa melayang karenanya. Pelor-pelor itu sangat angker dan keji di zamannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau saja setiap pelor itu bisa bicara peranannya, pastilah orang yang menonton akan bergetar hatinya. Mereka pernah ditenteng dari satu tempat ke tempat lain. Dari kota hingga hutan belantara. Dimuntahkan ke arah banyak manusia, lalu merobek kulit, daging dan merusak tulang-belulang. Bahkan kemudian berputar-putar sedemikian rupa sehingga sang pemilik jasad menjadi sekarat dengan darah yang meleleh kemana-mana. Konon, dalam perang Korea (1950-1953) pelor-pelor semacam itu telah berperan besar mencabut lebih dari 2 juta nyawa. Wow!

Foto: M Aji Surya/detikcom

Please, tahan dulu bicara dulu soal K-Pop dan operasi plastik yang bikin cewek Korea mencorong. Sebab, masih sering dilupakan, Republik Korea ini saat sekarang masih dalam keadaan siaga perang dengan saudaranya di Korea Utara. Ada jutaan pelor-pelor yang masih bermesiu dan berisi nuklir sangat mungkin untuk kembali mengulang sejarah: menembus jantung dan mencabik-cabik jutaan raga manusia. Bila itu terjadi, yang bisa dipastikan hanyalah kerugian yang maha hebat.

Saya pun jadi teringat dengan sebuah diskusi di wilayah perbatasan antara kedua negara beberapa bulan silam. Di DMZ (demilitarized zone) itu, seorang dosen ber-casciscus-ria tentang "kerinduan" unifikasi antara "Utara" dan "Selatan". Sebuah keindahan kehidupan yang akan penuh dengan kemakmuran.

Foto: M Aji Surya/detikcom

Teorinya, apabila kedua negara itu menjadi satu maka pertumbuhan ekonomi di Asia Timur akan sangat terbantu oleh kemajuan pesat di Semenanjung Korea. Dunia juga akan ikut tertawa ceria.

Yang tidak pernah dibicarakan adalah bagaimana kedua belah pihak bisa bersatu dalam perbedaan prinsip. Manakala yang diinginkan adalah sebuah konsep "menang-kalah", dan bukan "solusi menang-menang", maka rasanya itu semua masih utopia, jauh panggang dari api. Masih akan terus terjadi provokasi dan agitasi. Dan, moncong-moncong pelor bermesiu itu akan terus siap diluncurkan untuk merobek-robek peradaban manusia.

Foto: M Aji Surya/detikcom

Pelor-pelor karatan di depan city hall Seoul itu saya duga, dimaksudkan untuk menggugah hati nurani manusia untuk tidak jemawa, merasa hebat sendiri lalu menghalalkan darah orang lain. Pelor-pelor itu membawa sebuah peringatan yang sangat kuat bahwa kehidupan manusia harus terus berlanjut dengan keharmonisan yang makin tinggi. Era saling membunuh sudah harus ditinggalkan karena tidak akan memberikan manfaat apapun.

Pesan kuat pelor-pelor karatan itu terlihat kuat di sebagian pucuk-pucuknya. Diantara pelor yang karatan itu berkembang beberapa daun hijau yang begitu menyolok mata. Ini menandakan bahwa saat ini, sekali lagi, zaman pelor sudah "karatan", sudah berlalu. Kini kita memasuki zaman daun hijau yang menyejukkan hati umat manusia. Sebuah pesan universal bagi bangsa Korea, Asia, Eropa, Afrika, Australia, Amerika dan tentu juga bagi kita di Indonesia.

Penulis adalah WNI tinggal di Korsel (ajimoscovic@gmail.com) (try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads