Elektabilitas Mega di Bawah Jokowi, Maruarar: Bu Mega Fokus Regenerasi

Jurig Lembur - detikNews
Senin, 25 Jul 2016 01:07 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkap elektabilitas Joko Widodo meningkat menyusul tingkat kepuasaan masyarakat atas kinerja Jokowi sebagai Presiden. Namun survei itu juga menunjukan elektabilitas Megawati terus menurun.

Peneliti Burhanudin Muhtadi menyoroti elektabilitas dan kepuasaan terhadap kinerja Jokowi itu tidak berbanding lurus dengan elektabilitas Megawati sebagai ketua umum PDIP. Dia menyoal ada yang tidak sinkron antara PDIP sebagai partai terbesar dengan Megawati.

"Elektabilitas Megawati makin lama makin turun. Kalau misal data di kami, PDIP paling atas. Apakah mungkin PDIP menempati peringkat pertama jika pemilu digelar sekarang sementara elektabilitas Megawati 1,8 persen?" ucap Burhanudin.

Hal itu disampaikan dalam paparan survei SMRC berjudul 'Kinerja Pemerintah Dua tahun Pilpres di Kantor SMRC, Jl Cisadane, Jakpus, Minggu (24/7/2016). Hadir politisi PDIP Maurar Sirati dan Golkar Agun Gunanjar.

Dalam rilis yang disurvei hari ini, elektabilitas Jokowi 31,4%, sementara Megawati di urutan ketujuh sebesar 0,5%. Burhanudin menganalisa hasil itu menunjukkan elektabilitas PDIP tidak semata karena diusung Megawati.

"Megawati yang makin lama makin turun, bahkan kalah dengan Hary Tanoe (urutan keempat dengan 1,9%)," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia itu.

"Di tingkat basis massa PDIP sudah terjadi switching. Jadi mereka melihat bukan Megawati pengerek PDIP, tapi sosok baru Jokowi," imbuhnya.

Burhanudin lalu mengkritik pola hubungan PDIP dan Jokowi yang menurutnya PDIP belum menjadikan Jokowi sebagai excellent asset. Terlihat dari beberapa kebijakan yang ketara berseberangan antara Jokowi dengan PDIP.

"Sering kali melihat Jokowi ancaman bukan peluang, terutama di tahun 2015," kata Burhanudin merujuk polemik calon kapolri hingga RUU KPK saat itu.

Menanggapi hal itu, politisi PDIP Maruara Sirait (Ara) langsung menegaskan bahwa Megawati sebagai ketua umum sudah tidak perlu lagi elektabilitas. Megawati saat ini fokus mendorong regenerasi kader.

"Ibu Mega tak punya kepentingan elektabilitas lagi, tak punya cita-cita maju Presiden. Jadi tentu sebagai ketua umum yang dipikirkan bagaimana proses idelogi partai bisa berjalan dalam konteks sebagai partai pemerintah dan membuat regenerasi berkuatias dan bisa dibuktikan," papar Ara.

Anggota DPR RI itu lalu menyebut beberapa kader PDIP yang sukses di daerah, bahkan nama kader PDIP paling banyak muncul dengan elektabilitas sebagai capres yang tinggi menurut survei SMRC di 20 besar nama.

"Lihat saja survei tadi dari banyak tokoh yang masuk di level semuanya kader PDI Perjuangan. Ada Ganjar Pranowo, Trirismaharini, Puan Maharani, Tjahjo Kumolo, Pramono Anung. Ini menjukkan bahwa kaderisasi dan regenerasi partai di bawah kepemimpinan Ibu Mega sangat berhasil. Saya lihat tidak ada nama kader dari Partai Pak Agun (Golkar)," ungkap Maruarar sambil melirik Agun di sampingnya.

Survei SMRC itu digelar pada 22-28 Juni 2016 di 34 provinsi yang diambil dengan metode wawancara tatap muka terhadap 1.027 responden yang mempunyai hak pilih. Metode survei multistage random dengan margin of error rata-rata 3,1% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Berikut elektabilitas 10 besar tokoh menjelang Pilpres 2019 menurut responden:

1. Joko Widodo: 32,4 %

2. Prabowo Subianto: 9,4%

3. SBY: 2,6%

4. Hary Tanoesudibjo: 1,9%

5. Ahok: 1,4%

6. Tri Rismaharini: 0,6%

7. Megawati: 0,5%

8. Ridwan Kamil: 0,4%

9. Surya Paloh: 0,3%

10. Maemun Zubair: 0,3%

Lainnya: 1,9%

48,4 persen tidak tahu/tidak jawab/rahasia.

(miq/jor)