Golkar: Kalau Ada Reshuffle, Harus yang Terakhir

Golkar: Kalau Ada Reshuffle, Harus yang Terakhir

M Iqbal - detikNews
Minggu, 24 Jul 2016 16:12 WIB
Golkar: Kalau Ada Reshuffle, Harus yang Terakhir
Foto: Ilustrasi oleh Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Isu reshuffle menguat dan dispekulasikan akan terjadi pada akhir bulan ini. Ketua DPP Golkar Agun Gunanjar berharap jikapun ada reshuffle maka harus jadi yang terakhir dilakukan Presiden Joko Widodo.

"Kami berharap kalau ada reshuffle dalam waktu singkat, ini reshuffle yang terakhir yang dilakukan Jokowi," kata Agun Gunajar dalam diskusi soal 'Kinerja Pemerintah Dua tahun Pilpres di Kantor SMRC, Jl. Cisadane, Jakarta Pusat, Minggu (24/7/2016).

Agun menjelaskan hal itu berdasarkan keputusan dalam Munaslub Golkar dan rapat pimpinan DPP Golkar. Alasan berharap sebagai reshuffle terakhir karena posisi Jokowi sudah sangat kuat sebagai Presiden.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena di tangan beliau hari ini seluruh persyaratan untuk menjalankan sistem presidensial sudah strong dia miliki. Dukungan rakyat, dukungan parpol sudah di tangan beliau," ujarnya.

Dukungan rakyat merujuk pada hasil survei tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi, setidaknya menurut SMRC sebanyak 67% puas dan 30 kurang/tidak puas dengan kinerja Jokowi.

Sementara dukungan parpol merujuk pada jumlah parpol yang mendukung Jokowi-JK, yaitu hadirnya dukungan baru dari PAN, Partai Golkar dan PPP. Sebelumnya sudah ada PDIP, PKB, Hanura dan NasDem.

Meski begitu, Agun mengingatkan bahwa reshuffle itu juga harus memperhatikan soal kompetensi calon menteri, tidak serta merta mengadakan reshuffle untuk mengkompensasi dukungan parpol yang baru dukung pemerintah.

"Reshuffle harus dilakukan secara komprehensif dengan tidak mengabadikan kompetensi orang. Dukungan politik jadi penting, namun kompetensi juga tidak bisa diabaikan," ucap anggota DPR RI itu.

(bal/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads