Hal itu dikatakan Menlu Retno LP Marsudi usai bertemu dengan Menlu Filipina Perfecto Yasay di sela-sela acara Asean Foreign Ministers Meeting (AMM) ke-49 di Vientiane, Laos. Retno menjelaskan, dalam pertemuan dengan Yasay, pihak Filipina menyampaikan dengan detail cara mereka untuk membebaskan ke-10 WNI itu.
"Ini adalah pertemuan saya yang kedua dengan beliau karena yang pertama di Manila pada tanggal 1 Juli yaitu satu hari setelah beliau secara resmi dilantik menjadi menteri luar negeri. Dalam pertemuan empat mata tadi kita membahas masalah upaya pembebasan sandera. Saya juga mendapat informasi bahwa pada tanggal 27 Juli nanti di Manila ini ada proses internal atau internal mereka yang dinamakan security council meeting," kata Retno LP Marsudi di Hotel Landmark, Vientiane, Laos, Sabtu (23/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pertemuan empat mata tersebut, Retno menjelaskan ada tukar menukar informasi antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Filipina dalam pembebasan sandera. "Kita juga menggunakan kesempatan tadi juga untuk compare, jadi saling tukar informasi di lapangan. Intinya kita akan selalu melakukan koordinasi dan komunikasi yang intensif," tutur Retno.
Yang jelas, tambah Retno, Indonesia terus memantau perkembangan usaha Filipina dalam pembebasan 10 WNI. Apabila Filipina memerlukan bantuan, Indonesia siap untuk membantu.
"Indonesia terus memantau upaya yang dilakukan Pemerintah Filipina dalam pembebasan sandera. Dan Indonesia siap memberikan bantuan apabila diperlukan," tutupnya. (yds/imk)











































