Cerita Srianah Pernah Jadi Pemulung dan Menolak Bantuan 'Bersyarat'

Cerita Srianah Pernah Jadi Pemulung dan Menolak Bantuan 'Bersyarat'

Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 23 Jul 2016 18:57 WIB
Cerita Srianah Pernah Jadi Pemulung dan Menolak Bantuan Bersyarat
Srianah dan 3 anaknya berjualan kue di Jalan Ijen Kota Malang (Foto: M Aminudin/detikcom)
Malang - Srianah (41), warga Jalan Muharto Gang VI, Nomor 13, RT13/RW07, Kota Malang, memilih berjualan kue dengan berjalan kaki belasan kilometer. 3 Anaknya, Tri Sutrisno (11), Kurnia Putri (9), dan Dwi Astuti (7) selalu ikut. Sementara suami sakit stroke ditunggui anak pertamanya yang beranjak remaja.

Saat ditemui detikcom di kawasan Jl Ijen, Kota Malang, Jumat (22/7) dini hari, Srianah mengaku pernah jadi pemulung karena desakan ekonomi. Tapi dia kapok karena terjaring razia Satpol PP.

"Ini alhamdulillah ada yang nitipi (kue) untuk saya jual," papar wanita murah senyum ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Foto: M Aminudin/detikcom

Sebetulnya banyak tawaran untuk Srianah. Mulai dari jadi pembantu hingga bekerja di pabrik. Tapi ia khawatir anaknya tidak terurus.

"Mending berjualan begini," ujarnya.

Baca: Kisah Srianah: Suami Sakit, Jalan Kaki Belasan Km Bersama 3 Anak untuk Jual Kue

Srianah mengaku pernah dibantu. Bantuan berupa sembako dan uang itu ditolak karena mengharuskan anak-anak dianggap yatim. Padahal bapaknya, Suwarno (55) masih hidup.

"Kasihan suami, sakit. Masak harus dimatikan," ungkap Srianah.

Srianah berjualan kue sejak dua tahun terakhir. Dia mendorong gerobak bantuan mahasiswa melalui Pasar Besar, Alun-Alun, Kayutangan, Jalan Semeru, Bromo, hingga Taman Kunang-Kunang terletak di Jalan Jakarta. Jika diukur perjalanan itu menempuh jarak 15 kilometer dalam satu kali jalan.

Baca: Srianah dan 3 Anak Jalan Kaki Belasan Km untuk Jual Kue: Kami Tak Mau Ngemis!

Sebetulnya Srianah tidak mengajak anaknya berjualan. Sebaliknya, anaknya yang memaksa ikut. Mereka berempat menembus malam. Kadang sampai dini hari.

Di sela berjualan, anak-anaknya bermain. Mereka mengaku tidak capek meski harus berjalan kaki. "Kalau capek, ibu tak ajak berhenti. Saya bisa bermain," ucap
Kurnia Putri.

Srianah dan 3 anaknya berjualan kue keliling

Srianah memberikan beberapa aturan kepada ketiga anaknya. Sepulang sekolah, mereka wajib istirahat. Setelah bangun dari tidur siang diperintahkan untuk belajar. Sore harus mengaji.

"Kalau tidak, gak boleh ikut. Alhamdulillah mereka nurut, dan pagi tidak bangun kesiangan," katanya.

Srianah tidak tahu bagaimana kelangsungan hidupnya ke depan. Ia hanya berupaya keras agar anaknya bisa sekolah. Juga mendapatkan uang untuk biaya berobat suaminya. Apapun ia lakukan, termasuk berjalan kaki belasan kilometer di saat orang-orang tengah beristirahat atau tidur. (trw/trw)


Berita Terkait