Pembunuhan Munir (2)
Pollycarpus, Yeni, dan Wiranto
Kamis, 24 Mar 2005 10:17 WIB
Jakarta - Nama Pollycarpus belakangan ini kian moncer seiring tudingan keterlibatan dirinya dalam kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir. Siapa sebenarnya pria yang konon sok kenal sok dekat ini?Tidak banyak orang yang mengenal nama Pollycarpus sebelum penyelidikan kasus pembunuhan almarhum Munir dilakukan. Tentunya bukan pekerjaan mudah untuk mencari latar belakang serta apa saja kegiatan pria yang berprofesi sebagai pilot di PT Garuda Indonesia ini. Kalau pun ada, itu sebatas pengakuan Pollycarpus sendiri.Misalnya saja, Pollycarpus mengaku aktif sebagai seorang missionaris yang banyak memiliki anak asuhan di rumahnya. Sebagai pilot, Pollycarpus juga mengatakan dirinya pernah dua kali bertugas di Timor Timur. Pengakuan lainnya, Polly kenal dengan Munir pertama kali pada acara di Bundaran HI. Saat itu, almarhum Munir memberikan bunga dan brosur. Saat itu, hanya pertemuan biasa.Pertemuan kedua pada Maret 2004. Kala itu, Polly mengantar orang Timtim bernama Lorenzo yang ingin bertemu almarhum Munir di Kantor Imparsial. Saat itu, Polly hanya menunggu di teras kantor dan sempat diberi nomor telepon oleh almarhum Munir. Selain bertemu almarhum Munir, Polly juga mengantar ke Hendardi. Masih banyak pengakuan Polly lainnya, tapi kemudian malah ada yang dibantah sendiri.Sulit bukan berarti tidak mungkin. Penelusuran detikcom akhirnya berhasil mendapat sedikit jejak kegiatan Pollycarpus pada beberapa tahun lalu, tepatnya di era gerakan mahasiswa pada tahun 1998. Pollycarpus pernah membantu sebuah kelompok mahasiswa dan pemuda menyalurkan logistik untuk para demonstran di lapangan.Seorang mantan aktivis mahasiswa kepada detikcom menceritakan, dirinya ingat pernah bertemu Pollycarpus dalam sebuah kegiatan pendistribusian logistik makanan. Menurut aktivis yang tidak mau disebutkan namanya ini mengatakan, Pollycarpus nongol begitu saja di markas mereka ketika dia dan teman-temannya tengah sibuk akan menyalurkan bantuan makanan kepada mahasiswa di gedung DPR. Posko bantuan yang didirikan aktivis ini berada di daerah Pamulang, Tangerang, Banten."Kita ngga tahu dia datang dari mana, tahu-tahu dia menawarkan mobilnya untuk mengangkut logistik. Sikapnya memang supel dan sok kenal sok deket gitu. Kita yang tadinya ragu-ragu, akhirnya mau juga menerima bantuannya," ujarnya.Menurut aktivis itu lagi, mobil yang digunakan Pollycarpus saat itu jenis Land Rover. Bersama sesama aktivis, Pollycarpus rajin mengantarkan logistik ke mana-mana, baik ke gedung DPR maupun ke kampus Unika Atmajaya. Dalam waktu singkat Pollycarpus memang bisa menyesuaikan diri dengan aktivis lainnya.Namun selain supel, Pollycarpus juga orang yang suka pamer. Aktivis itu menungkapkan, Pollycarpus sering mengaku dekat dengan kalangan militer dan polisi. Pollycarpus juga mengatakan dirinya punya pistol dan hobi mengoleksi kendaraan jenis jeep.Pollycarpus bahkan langsung menunjukkan sebuah pistol kecil yang disimpan di balik bajunya ketika diminta membuktikan ucapannya. Tidak hanya itu, dia juga mengatakan dirinya memiliki izin resmi untuk menggunakan pistol tersebut.Dalam sebuah perjalanan di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat, Pollycarpus kembali pamer kenal dengan banyak polisi. Hal itu ditunjukkannya dengan cara sengaja menerabas lampu merah. Ketika mobil dihentikan oleh polisi, Pollycarpus turun dan berbicara sejenak kepada polisi itu. Tidak sampai lima menit, rombongan pun dipersilakan jalan. Bebas!Pollycarpus juga bercerita kalau dirinya gemar berburu. Saat aktivis tersebut dibawa ke dalam rumahnya, Pollycarpus menunjukkan dua buah senjata api laras panjang untuk berburu."Kita kemudian jadi bertanya-tanya, apa maksudnya dia bertindak seperti itu. Kalau intel masak sombong seperti itu. Tapi dia bergabung dengan kami memang tidak lama, hanya beberapa hari. Selanjutnya kita tidak pernah berhubungan lagi. Saya kembali teringat dia ketika melihat wajahnya di TV terkait pembunuhan Munir. Jangan-jangan dia benar...," ujar aktivis itu tidak menyelesaikan kalimatnya.Lain lagi cerita mantan aktivis Solidamor, Yeni Rosa Damayanti. Wanita cantik ini menuturkan, dirinya berulangkali ditelpon Pollycarpus sebelum pemilihan presiden putaran pertama lalu. Kepada Yeni, Pollycarpus kerap bertanya bagaimana pendapatnya tentang pencalonan sejumlah jenderal dalam pilpres.Ditambahkan Yeni, Pollycarpus juga mengaku banyak memiliki persamaan dengan Yeni. Salah satunya sama-sama benci dengan tentara, terutama terhadap Wiranto (mantan Panglima TNI). Hal tersebut bukan tanpa sebab. Menurut penuturan Pollycarpus kepada Yeni, hal tersebut buntut peristiwa di Timor Timur. Yeni mengungkapkan, Pollycarpus mengaku istrinya asal Timtim dan sejumlah familinya di sana tewas dibunuh militer."Karena itu dia meminta saya untuk mengundangnya kalau ada rapat-rapat sesama teman yang anti militer. Dia juga berjanji akan memberikan saya tiket gratis kemana saja di dalam negeri, asal untuk kegiatan melawan Wiranto," tutur Yeni kepada detikcom.Sebagai orang yang hidupnya kerap berserempetan dengan aktivitas intelijen, Yani mengaku curiga dengan sikap Pollycarpus. Terus terang, dia malah menduga Pollycarpus adalah bagian dari kubu pendukung Wiranto, yang ingin mengetahui kegiatan lawan-lawannya. Apalagi sekarang dirinya tahu, banyak pengakuan Pollycarpus yang tidak benar. Misalnya soal istrinya yang ternyata orang batak dan masih hidup."Begitulah gaya intel melayu, gampang ketahuan. Telepon dari dia juga tidak pernah terdengar lagi ketika pilpres I selesai. Beruntung saya terus menolak ketika diajak bertemu langsung dengan dia," ungkap Yeni.Pollycarpus sendiri memang pernah membantah sejumlah pemberitaan mengenai dirinya. Contohnya mengenai kepemilikan senjata api. Lewat pengacaranya, Suhardi Somomoeljono pada Desember 2004 silam, Pollycarpus menegaskan dirinya tidak pernah mempunyai senjata api dengan izin dari Badan Intelijen Negara (BIN)."Semuanya itu adalah tidak benar, karena saya tidak pernah memiliki senjata api. Tolong ditelusuri," ungkap Polly dalam suratnya. Ditegaskan Suhardi juga, bahwa dirinya yakin kliennya tidak mempunyai senjata api baik legal maupun ilegal.
(djo/)











































