Candi Sirih, Peninggalan Peradaban yang Tersisih

Candi Sirih, Peninggalan Peradaban yang Tersisih

Muchus Budi R. - detikNews
Jumat, 22 Jul 2016 11:19 WIB
Candi Sirih, Peninggalan Peradaban yang Tersisih
Kondisi Candi Sirih (Foto: Muchus Budi R)
Sukoharjo - Siapapun yang pertama kali melihat kondisi Candi Sirih di Sukoharjo, pasti akan langsung tercengang. Kondisinya benar-benar berantakan. Tak terurus. Bebatuan bahan utama bangunan candi, sebagian telah terpendam atau terbawa erosi. Bahkan ada yang telah dijadikan talud oleh warga sekitar.

Lokasinya ada di Dusun Kersan, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Sukoharjo. Hanya sekitar 24 kilometer dari pusat Kota Kabupaten Sukoharjo. Dari Sukoharjo ke Weru melalui jalan propinsi beraspal bagus. Sesampai di Desa Karanganyar, selanjutnya hanya perlu berbelok sekitar 500 meter memasuki jalanan desa berbeton kuat untuk sampai ke lokasi candi. Bisa dilalui mobil jenis apapun. Artinya sebenarnya tak ada kendala apapun untuk sampai ke lokasi.

Namun toh gambaran ideal memang tak selamanya sejalan dengan kondisi obyektif. Sudah puluhan tahun Pemerintah Desa selalu mengusulkan kepada Pemerintah Daerah untuk memperhatikan Candi Sirih, sejauh ini belum pernah ada tanggapan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sudah berkali-kali mengusulkan, berusaha mencari perhatian untuk Candi Sirih ini. Namun sekalipun belum pernah dari Pemkab atau dari BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala -red) datang kemari. Bukan hanya kami yang melakukan, kepala desa sebelum saya juga melakukan hal yang sama, namun ya selalu tidak ada perhatian," ujar Suyadi, yang telah dua periode menjabat Kepala Desa Karanganyar, saat ditemui Jumat (22/7/2016).

Akhirnya kondisi Candi Sirih benar-benar bikin sedih. Batu-batu berantakan. Hanya bagian kecil dinding depan candi yang masih menyisakan batu tertata dalam tumpukan bangunan dinding. Itu pun semakin lama semakin berkurang karena ada yang jatuh. Selebihnya adalah batu-batu berserak. Sebagian bahkan terbawa
erosi karena di belakang candi adalah kawasan lahan pertanian milik warga yang bertekstur miring.

"Banyak bebatuannya yang sudah hilang terpendam atau terbawa erosi ke bawah. Bahkan tak sedikit yang dipakai warga sebagai isian membangun talud untuk menaham erosi lahan pertanian mereka. Batunya berbentuk kotak-kotak besar dan kuat sehingga warga merasa tinggal ambil saja, tidak perlu membentuk atau memapras lagi. Kami juga tidak bisa melarang karena memang tidak ada larangan dari pemerintah," kata Suyadi.
Batuan berantakan di candi sirih (Muchus Budi R/detikcom)

Sangat minim informasi tentang keberadaan Candi Sirih. Belum ada penelitian yang mengungkap kapan candi ini dibangun? Apakah itu candi persembahyangan ataukah candi makam? Dibangun oleh salah kerajaan Hindhu/Budha pada masanya atau oleh warga sekitar? Adakah kaitannya dengan candi-candi lain yang ada di kawasan Klaten? Sama sekali tidak ada informasi memadai tentang itu.

Yang jelas, bebatuan yang dipakai untuk membangun Candi Sirih adalah bebatuan kapur yang lebih ringan di banding batu candi pada umumnya, namun juga memiliki kekerasan sangat baik. Batunya lebih putih dan memang mudah ditemukan sekitar desa Karanganyar yang merupakan kawasan deretan kaki Pegunungan Seribu.

Diameter bangunan utama candi hanya 7x7 meter. Sedangkan area seutuhnya sekitar 15x15 meter. Di belakangnya, terdapat bekas sumur dan pondasi dua bangunan ruangan untuk mandi. Semuanya dari bebatuan yang sama dengan batu bangunan utama candinya.

Warga di Candi Sirih (Muchus Budi R/detikcom)


Tak banyak ornamen dan ukir-ukiran pada bebatuan pada candi ini. Menurut warga, semula di bagian tengah candi terdapat sebuah arca yang sekarang sudah tak diketahui lagi keberadaannya.

"Sejak saya kecil ya usah berantakan seperti ini. Dulu banyak tang yang melakukan tirakat di sini atau dalam Bahasa Jawa disebut sesirih. Karena itulah kemudian warga menyebutnya sebagai Candi Sirih. Para leluhur kami juga tidak punya cerita khusus mengenai keberadaan candi ini," ujar Suharno, 77 tahun, warga setempat.

Candi Sirih (Muchus Budi R/detikcom)


Warga dan Pemerintahan Desa setempat berharap segera ada perhatian dari Pemerintah untuk Candi Sirih. Kalaupun memang candi itu dianggap tidak penting karena tidak memiliki tingkat estetis yang layak dilestarikan, bagi warga itu akan menjadi lebih jelas dalam menyikapinya. Kalaupun nantinya dinyatakan perlu dipugar maka akan lebih baik segera dilakukan sebelum materialnya semakin lama semakin rusak dan hilang.

"Kalau memang akan dipugar dan dilestarikan maka kami akan sangat sangat diuntungkan. Akan menjadi salah satu tujuan kunjungan. Bisa kami padukan dengan promosi potensi desa lainnya, karena desa kami merupakan salah satu sentra industri pembuatan tahu terbesar di Jawa Tengah," ujar Kades Suyadi.

Candi Sirih (Muchus Budi R/detikcom)
(mbr/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads