Meutya Hafid Ingatkan KPI ke Depan Akan Menghadapi Era Digitalisasi Televisi

Meutya Hafid Ingatkan KPI ke Depan Akan Menghadapi Era Digitalisasi Televisi

Erwin Dariyanto - detikNews
Jumat, 22 Jul 2016 11:12 WIB
Foto: Ari Saputra
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pada Rabu (20/7/2016) kemarin Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan 9 nama anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang dipilih oleh Komisi I DPR bidang Pertahanan, Informasi dan Luar Negeri. Ke-9 Nama tersebut adalah Nuning Rodiyah, Sudjarwanto Rahmat Muhammad Arifin, Yuliandre Darwis Ubaidillah, Dewi Setyarini, H Obsatar Sinaga, Mayong Suryo Laksono, Hardly Stefano Fenelon Pariela, serta Agung Suprio.

Wakil Ketua Komisi I DPR Meutya Viada Hafid mengingatkan adanya potensi tantangan besar KPI ke depan, khususnya di era digital. Munculnya TV digital akan mengubah struktur dunia penyiaran.

"Ke depan, KPI akan berhadapan dengan perkembangan media televisi yang begitu pesat, khususnya digitalisasi televisi yang akan mengubah struktur dunia penyiaran Indonesia," kata Meutya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/7/2016).

KPI juga akan dihadapkan pada persoalan netralitas media. Hal ini penting, kata Meutya, karena KPI adalah pengawas media. Politikus Partai Golongan Karya ini juga menyinggung sejumlah kekurangan KPI era sebelumnya.

Seperti, kurangnya kerjasama dengan lembaga penyiaran swasta. Dia pun meminta KPI menjalin kerja sama dengan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATvSI) dalam penerapan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

"Saya meminta KPI terus menjalin kerjasama dengan ATvSI terutama dalam penerapan P3SPS yang telah dibuat oleh KPI. Jangan sampai P3SPS tidak diperdulikan oleh lembaga penyiaran swasta dengan alasan mereka tidak dilibatkan sebelumnya dalam pembuatan P3SPS," kata Meutya.

Menurut Meutya ke-9 anggota KPI terpilih memiliki pengalaman di bidang media, mulai dari announcer, wartawan, pemimpin redaksi hingga pernah menjadi Komisioner KPI Pusat. Sebelum terpilih mereka telah melalui seleksi yang berlangsung lama dan sudah didahului uji yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Sehingga kami tidak mungkin memilih orang-orang yang tidak mempunyai pengalaman dan perhatian pada media sama sekali," kata Meutya yang pernah menjadi jurnalis ini.

(erd/trw)