Mendikbud: 1 Saja Kekerasan Anak di Sekolah Tak Bisa Diterima, Awasi!

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 22 Jul 2016 02:20 WIB
Mendikbud Anies Baswedan (Foto: detikINET/Adi Fida Rahman)
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menjelaskan kekerasan terhadap anak di sekolah tak bisa ditolerir. Maka masa orientasi siswa yang sarat perpeloncoan kini dihentikan. Bila masih ada kekerasan, segera lapor ke Kemendikbud!

"Kami melihat ini sudah kebiasaan di awal tahun dan sempat ditanyakan berapa statistik kekerasan anak di sekolah, bagi kami angka statistik kekerasan bukan yang terpenting, karena satu kekerasan saja tidak bisa diterima," tegas Menteri Anies sebagaimana keterangan pers dari Kemendikbud yang diterima detikcom, Jumat (22/7/2016).

Anies menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/7) kemarin. Dia berharap, masyarakat mengawasi dengan sungguh-sungguh pelaksanaan Program Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) ini.

"Awal tahun ini sudah jadi awal yang baik itu perlu kita jaga agar seluruhnya terlibat. Ada 220.000 sekolah. Kalau aparatur Pemerintah saja yang mengawasi tidak akan bisa. Kita berharap masyarakat, semua mengawasi," ujar Menteri Anies menambahkan.

Kemdikbud membuka saluran pengaduan. Bila ditemukan praktik perpeloncoan atau tindakan kekerasan di sekolah masyarakat bisa menghubungi nomor telepon 0811976929 /021-59703020, atau melalui email ke: sekolahaman.kemdikbud.go.id/ laporkekerasan@kemdikbud.go.id.

"Anak bagi seorang ibu adalah segalanya dan tidak bisa diterima setiap kekerasan yang dilakukan terhadap anaknya. Sehingga, kekerasan itu harus dihentikan. Maka orientasi siswa tahun ini berubah, tidak boleh ada perpeloncoan apalagi kekerasan," kata Anies.

Dalam rapat, para anggota DPR mengapresiasi langkah Anies menghapuskan perpeloncoan di sekolah. Juga, imbauan Anies agar orang tua mengantar anaknya di hari pertama masuk sekolah mendapat tanggapan yang positif dari anggota DPR.

"Para bupati Sumsel itu banyak yang menampilkan foto-foto saat mengantarkan anak-anak sekolah di hari pertama masuk sekolah di media-media sosial," kata Sri Mellyana, Anggota Komisi X DPR RI.

"Alhamdullilah, Pengenalan Lingkungan Sekolah di Yogyakarta berlangsung dengan antusiasme masyarakat Yogyakarta, dan mengurangi kekerasan di sekolah saat hari pertama sekolah," kata Esti Wijayanti, anggota Komisi X dari Dapil Yogyakarta.

"Saya sangat apresiasi untuk MOS kali ini bagus sekali, dengan diubah jadi Pengenalan Lingkungan Sekolah, bahkan ada imbauan mengantar anak sekolah," tutur anggota dari Fraksi Partai Golkar, Ceu Popong. Walau diakui himbauan mengantar anak sekolah cenderung terlambat dibandingkan dengan negara maju lain, langkah perubahan harus tetap diapresiasi. (dnu/dnu)