Ketiga program tersebut adalah menjaga kebersihan di dalam dan di luar sekolah, menanam dan memelihara pohon, dan terakhir adalah bagi siswa mapan diharuskan mengangkat saudara asuh yang berasal dari teman seangkatan, kakak kelas, atau pun siswa dari sekolah lain.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Selasa (19/7/2016) pagi, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mensosialisasikan ketiga hal tersebut dalam rangka pengenalan pada siswa yang baru masuk di SMPN 1 Purwakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
"Semuanya sekarang serba plastik. Mulai dari tempat makan, tempat pakaian, lalu kantong belanja. Bayangkan plastik itu dikumpulkan oleh setiap orang dan tidak tertampung pembuangannya, maka lari ke selokan lalu ke sungai dan terakhir ke laut," beber Dedi.
Untuk itu maka Dedi meminta pihak sekolah merumuskan peraturan agar penggunaan plastik di sekolah bisa diminimalisir. "Kalau bisa mulai hari ini di sekolah tidak ada lagi yang menggunakan plastik sebagai pembungkus," katanya.
Kedua, lanjut Dedi, saat ini hutan Indonesia dirasa dalam kondisi kritis. Hutan di Sumatera, Kalimantan, Papua, teruma di Jawa semakin habis sehingga kualitas udara dan air semakin menurun. Bahkan saat ini keberadaan hutan di Gunung Wayang dan Gunung Windu sudah habis sehingga menjadi salah satu faktor penyebab Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia.
Sebagai langkah pencegahan maka Dedi menginstruksikan agar satu siswa menanam satu pohon dan jika pohon tersebut mati maka harus diganti dengan yang baru. Namun jika ada yang sengaja merusak satu pohon maka diwajibkan mengganti rugi 100 pohon.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Terakhir, Dedi melihat problem yang dihadapi masyarakat adalah empati sosial yang semakin menurun. Untuk itu dia meminta para siswa yang mapan minimal bisa mengangkat saudara baru yang berasal dari kalangan tidak mampu.
"Bisa dibilang mungkin di SMPN 1 semuanya sudah mapan jadi satu anak punya satu saudara boleh juga dari sekolah lain. Nanti dicatat oleh guru. Nantinya anak mapan akan berbagi makanan yang lebih, pakaian atau sepatu sudah bosen, bisa berbagi," ucapnya.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Dedi menjamin jika para siswa mengikuti tiga hal tersebut secara baik maka nilai agama, kewarganegaraan, dan IPA/IPS akan langsung mendapat nilai sembilan.
"Para guru di Purwakarta harus mulai menilai anak dari perilaku bukan akademis. Karena akademis itu hanya mempengaruhi delapan persen kesuksesan seseorang," pungkas Dedi. (trw/trw)












































Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom