Seperti apa profil Santoso yang kemudian jadi buron nomor wahid yang diburu 3.000 prajurit TNI-Polri itu?
Santoso alias Abu Wardah alias Bos alias Komandan alias Kombes lahir di Tentena (Poso), 21 Agustus 1976. Dia menghabiskan masa kecil di Tentena hingga tamat Sekolah Menengah Pertama pada 1992. Pada April 2016 lalu, detikcom menelusuri Tentena untuk mencari jejak Santoso.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebetulan ibunya Santoso itu tukang pijat bayi, anak saya pernah dipijat sama dia," kata pedagang tersebut kepada detikcom di Palu, Senin 4 April 2016.
Santoso dan keluarganya, kata dia, pindah dari Tentena setelah meletus kerusuhan pada kurun waktu 1996-1997. Namun dia tak bisa memastikan ke mana keluarga Santoso pergi.
Penelusuran detikcom selanjutnya menemukan bahwa setelah meletus kerusuhan di Tentena, Santoso pindah ke Dusun Bakti Agung, Desa Tambarana Trans, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso. Di sinilah kemudian Santoso menemukan Warni, tambatan hatinya yang dia nikahi pada tahun 1998.
Sejak itulah Santoso menetap dan tinggal bersama istrinya di Bakti Agung. Santoso tak pernah menunjukkan perilaku aneh atau mencurigakan.
Sekretaris Desa Tambarana Trans, Eko Prabowo, mengatakan hubungan Santoso dengan warga baik. Dia rajin ikut kerja bakti dan rukun kampung. "Hubungan (Santoso) dengan masyarakat baik, ibadah juga biasa saja. Makanya kami heran, kok bisa ya (mendalangi aksi teror). Kami juga heran," kata Eko Prabowo saat berbincang dengan detikcom, Kamis (7/4/2016).
Ilmu agama dan ibadahnya pun terbilang biasa saja. Dia juga tak menunjukkan bakat sebagai seorang pemimpin. Di Tambarana, Santoso mencari nafkah dengan berjualan buku keliling, sayur, buah-buahan dan terkadang menjadi buruh bangunan.
Santoso menghilang dari Bakti Agung, Tambarana, pada kurun waktu tahun 2000-an. Sejak itu tak ada yang mengetahui keberadaan Santoso. Pedagang warung makan yang ditemui detikcom di Palu mengaku pernah mendengar Santoso sempat mampir ke bengkel adiknya untuk mencari potongan besi.
"Nah pada tahun 2000-an, Santoso ini pernah muncul di Palu ke bengkel adik saya cari potongan besi. Saya tak tahu untuk apa," kata dia.
Tahun 2004 untuk pertama kalinya Santoso terlibat perkara pidana umum. Dia ikut dalam aksi perampokan mobil boks distributor Djarum Super pada tanggal 3 Agustus 2004. Atas aksinya tersebut dia divonis hakim Pengadilan Negeri Palu dengan hukuman penjara 5 tahun.
"Perampokan tersebut dipimpin oleh Santoso bersama 5 orang lainnya," kata seorang penyidik di Polda Sulawesi Tengah, Senin (11/4/2016).
Lepas dari penjara, Santoso dan kelompoknya membangun basis pelatihan di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Poso Pesisir, Poso. Salah satu yang pernah merasakan 'sentuhan' latihan militer ala Santoso itu adalah Rafli alias Furqon (28).
Rafli baru saja mendapatkan status bebas bersyarat dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan atas vonis 8 tahun penjara karena terlibat penembakan dua anggota polisi di Palu pada 25 Mei 2011.
Rafli mengaku pertama kali gabung dengan Santoso dan kelompoknya pada tahun 2009. "Saat itu kegiatannya adalah majelis taklim dan pengajian," kata Rafli saat ditemui detikcom di rumahnya di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kamis (7/4/2016).
Bersama Rafli, ada tujuh anggota lain yang semuanya diajar oleh Santoso. Materi yang diajarkan kala itu menyangkut pemahaman soal agama termasuk tata cara salat dan membaca Alquran. Baru setahun kemudian Rafli dan teman-temannya diberikan pelatikan fisik di hutan yang posisinya persis di atas Dusun Tamanjeka. Dalam latihan tersebut diajarkan pula menembak menggunakan senjata api. Santoso sendiri yang memberikan latihan menembak.
"Iya Santoso yang memberikan latihan menembak," kata dia.
Dari Dusun Masani di Tamanjeka, Santoso mengendalikan sejumlah aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah. Santoso kemudian melarikan diri ke Pegunungan Biru, Poso, yang berhutan lebat dan diduga tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala pada Senin kemarin.
Hari ini, Selasa (19/7/2016), Satgas Tinombala tengah berupaya mengevakuasi 2 jenazah yang satu di antaranya diduga Santoso dari Pegunungan Biru untuk kemudian dilakukan tes DNA dengan keluarga Santoso. (erd/nrl)