"Presiden yang punya hak prerogatif, kebutuhan untuk reshuffle segera atau tidak hanya beliau yang tahu. Cuma, saya punya pandangan bahwa kalau ini mau reshuffle, ini yang terakhir, supaya teman-teman yang diangkat jadi menteri nanti betul-betul kerja fokus selama periodenya," ujar Akom.
Akom menyampaikan hal tersebut kepada wartawan setelah menghadiri acara ulang tahun ke-65 Surya Paloh di Grand Lobby Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Senin (18/7/2016).
Akom juga memberi masukan agar Presiden Jokowi hati-hati mengganti tim ekonominya. Saat ini, menurut Akom, ada tantangan kondisi ekonomi global, sehingga tim ekonomi Indonesia harus kuat.
"Karena perekonomian dunia sangat berpengaruh terhadap Indonesia. Misalnya persoalan Tax Amnesty. Sekarang ada isu Singapore yang akan berikan bebas pajak, tapi ada syaratnya, bebas pajak tidak boleh menarik dananya," ulas politikus Golkar ini.
Isu reshuffle memang kian kencang berhembus. Golkar kabarnya sudah menyetor 3 nama ke Presiden Jokowi, yaitu Idrus Marham, Cicip Sharif Sutardjo dan MS Hidayat. Namun Jokowi dikabarkan belum menyetujui nama-nama itu. Di luar ketiganya, Jokowi malah menggelar pertemuan dengan senior Golkar yang pernah menjadi Menteri Perumahan Rakyat dan Menteri Transmigrasi Siswono Yudho Husodo.
(tor/van)











































