Balita Ririn tinggal bersama keluarganya di Gang Aman No 5, RT04/RW09, Kelurahan Kebun Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Rumahnya berada di gang sempit dekat aliran sungai.
Kondisi rumah balita Ririn/ Mukhlis Dinillah |
Gejala hidrosefalus yang diderita Ririn diketahui setelah dua bulan setelah persalinan normal di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Kota Bandung. Perlahan-laha ukuran kepala Ririn lebih besar dari ukuran tubuhnya.
"Awalnya kata dokter ada gangguan di paru-paru, tapi setelah dua bulan setelah lahir taunya penyakitnya di kepala," kata Erlan Hermawan (28) kakak dari Ririn.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi itu sementara aja, setelah beberapa bulan kepalanya membesar lagi sampai sekarang," ujar pria yang bekerja sebagai petugas gorong-gorong ini.
Lingkar kepala Ririn kini mencapai 84 centimeter. Ririn hanya bisa terbaring lemas dengan menahan sakit yang dideritanya. Badannya kurus dan hingga saat ini belum bisa berbicara.
Makan, mandi hingga buang air dilakukan Ririn di kasur tipis berwarna biru tersebut. Ririn hanya bisa mengonsumsi bubur dan susu setiap harinya.
Ririn harus mengubur dalam-dalam keinginannya bermain dengan bocah seusianya. Ririn hanya bisa terbaring lemas menahan berat kepala dan sakit yang dirasakannya. Matanya hanya bisa menatap ke arah langit-langit rumah dan sesekali tersenyum.
Ririn lahir dari keluarga kurang mampu dari segi ekonomi. Sehari-hari, hanya mengandalkan sang ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan. Tak jarang juga mendapat uluran tangan para tetangganya.
"Buat makan aja susah apalagi buat biaya berobat, apalagi operasi," ujar ibunda Ririn, Elih (44).
Tempat tinggal Ririn berada di sebuah gang sempit pinggir sungai. Kondisi rumahnya cukup mengkhawatirkan. Ririn tinggal bersama lima orang keluarganya termasuk ayah dan ibunya.
Kondisi rumah Ririn/ Mukhlis Dinillah (detikcom |
Terakhir kali Ririn kontrol ke Rumah Sakit pada 2011 silam. Saat itu pun kondisinya sebagai warga tidak mampu membuatnya keluarga Ririn dipersulit oleh pihak Rumah Sakit.
"Dulu kan kami pakai SKTM (surat keterangan tidak mampu), itu juga dipersulit untuk kontrol," kata dia.
Hingga saat ini, kata Elih, belum ada aparat kewilayahan seperti Kelurahan dan Kecamatan yang memberikan perhatiannya kepada Ririn. Ia berharap pemerintah bisa turun tangan untuk membatu Ririn.
"Mudah-mudahan Pak Wali Kota bisa dateng ke sini liat kondisi Ririn," harap Elih sambil menatap Ririn. (ega/ega)












































Kondisi rumah balita Ririn/ Mukhlis Dinillah
Kondisi rumah Ririn/ Mukhlis Dinillah (detikcom