Cerita Danlanud Adisutjipto Soal Pro dan Kontra Pelepasan Balon Udara

Cerita Danlanud Adisutjipto Soal Pro dan Kontra Pelepasan Balon Udara

Sukma Indah Permana - detikNews
Jumat, 15 Jul 2016 19:43 WIB
Cerita Danlanud Adisutjipto Soal Pro dan Kontra Pelepasan Balon Udara
Balon udara diamankan Lanud Adisutjipto (Foto: Dok. Lanud Adisutjipto)
Jakarta - Lanud Adisutjipto, Airnav Indonesia sempat menggelar diskusi soal bahaya balon udara di Wonosobo Jawa Tengah. Di sana, terjadi pro kontra soal larangan menerbangkan balon udara tanpa kendali.

"Ketika ada diskusi di Wonosobo. Ada juga yang kontra. Mereka mengatakan ini tradisi yang harus dilindungi dan diberi ruang. Itu betul, tapi kan harus melihat konteksnya," ujar Danlanud Adisutjipto Marsekal Pertama Imran Baidirus.

Hal ini disampaikan Imran dalam jumpa pers yang digelar di Mako Danlanud Adisutjipto, Yogyakarta, Jumat (15/7/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, jika sudah berhubungan dengan keselamatan penerbangan, harus ada prioritas. Tradisi, kesenangan, hobi atau keselamatan harus ada yang diprioritaskan.

"Kita harus punya sudut pandang yang sama soal keselamatan jiwa," tuturnya.

Imran menjelaskan diskusi ini digelar di Wonosobo karena ada festival balon udara di Wonosobo yang resmi diadakan oleh Pemda setempat.

"Di sana ada festival balon udara yang memang resmi. Balonnya sangat besar. Dengan bahan bakar yang bisa membuat dia terbang sampai 3.000 feet," ungkapnya.

Sedangkan ketinggian 3.000 feet merupakan lintasan pesawat salah satunya Boeing 737 yang berpenumpang sekitar 200 orang.

"Bayangkan ratusan jiwa yang terancam," tegas Imran.

Dalam kesempatan ini hadir pula District Manager Airnav Yogyakarta Nono Sunariyadi. Nono menceritakan sosialisasi di Wonosobo soal balon udara sudah dilakukan sejak tahun lalu.

"Saat itu pemda Wonosobo menyambut positif terhadap apa yang kami sampaikan.Festival (balon udara) saat itu akhirnya dihentikan. Tahun ini rencananya akan dihentikan, tapi masyarakat masih resisten," tutur Nono.

Resistensi masyarakat, kata Nono, dilakukan dengan cara berdemo ke DPRD dan kantor Bupati Wonosobo. Hal ini membuatnya bersama Lanud Adisutjipto dan Dishub DIY kembali ke Wonosobo untuk menggelar diskusi soal bahaya balon udara.

Diskusi kali ini digelar dengan mengajak lebih banyak pihak mulai dari Camat, himpunan mahasiswa, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat.

"Ada pro kontra di sana. Alasannya, ini tradisi yang sudah bertahun-tahun," katanya.

Meski begitu, pihak Pemda dan Polres Wonosobo mendukung pelarangan ini.

Kapolres Wonosobo, kata Nono, mengatakan bahwa di atas sana ada ratusan jiwa.

"Apakah iya, jiwa-jiwa itu terancam untuk mempertahankan tradisi," ujar Nono menirukan Kapolres Wonosobo.

Hasilnya, Pemda tidak lagi menggelar festival balon udara. Namun, masih ada festival yang digelar secara perseorangan.

"Kapolres mengatakan akan menindak tegas jika ada warga yang melakukan apa yang sudah disampaikan. Tapi Kapolres tidak serta merta keras, dia sosialisasi, mendatangi masyarakat dan mengirim broadcast," jelasnya.

(sip/dnu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads