Kisah Fatma Mengajar di Rimba Pinus, Jadikan Perpustakaan sebagai 'Rumah'

Kisah Fatma Mengajar di Rimba Pinus, Jadikan Perpustakaan sebagai 'Rumah'

Putri Akmal - detikNews
Jumat, 15 Jul 2016 11:19 WIB
Kisah Fatma Mengajar di Rimba Pinus, Jadikan Perpustakaan sebagai Rumah
Fatma dan anak didiknya (Foto: Putri Akmal/detikcom)
Banyuwangi - Hari masih pagi, seorang perempuan bertubuh langsing tiba menghampiri dengan mengulurkan tangan dan tersenyum ramah. Perempuan berkerudung ini ialah Fatmawati Nadlirah (27). Ia adalah salah satu orbitan program Banyuwangi Mengajar yang mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di daerah pinggiran, sebuah perkampungan kecil di tengah rimba hutan pinus.

Ya, kampung ini biasa disebut sebagai Kampung Baung. Baung yang dalam bahasa setempat diartikan sebagai anjing. Untuk bisa menjangkau kampung ini, tentu bukan hal mudah. Dari kota Banyuwangi menuju perkampungan Dusun Sumberurip, Barurejo, Kecamatan Siliragung yang secara administratif menaungi kampung tersebut, perlu ditempuh perjalanan sejauh 50 kilometer (km). Dari lokasi tersebut, masih ada jarak tempuh sejauh 12 kilometer dengan melewati kawasan hutan pinus terlebih dahulu.

Jika masuki perkampungan ini, jangan harap telepon genggam kita bisa berdering. Pasalnya, di lokasi perkampungan hutan pinus itu akses sinyal telekomunikasi terputus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang-orang biasanya menyebut tempat itu kampung 'Baung'. Mungkin karena banyaknya anjing hutan, ya?. Dan jangan berharap ada sinyal telekomunikasi di sini. Akses ke sana memang penuh tantangan, kita harus melewati hutan pinus dulu untuk sampai ke sana," cerita Fatma, Jumat (15/7/2016).

Kampung Baung berada di bawah kawasan Perhutani yang memiliki regulasi khusus. Lantaran ada batasan regulasi tersebut, pembangunan fisik seperti aksed jalan memang dibatasi. Karena keterbatasan itulah, Pemkab tak melulu memberikan bantuan pembangunan fisik, tetapi memberikan rangsangan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Melalui program Banyuwangi Mengajar tersebut, Pemkab Banyuwangi mengirimkan sarjana-sarjana terbaiknya untuk mengabdikan diri, mengajar, dan memberi motivasi kepada anak-anak di desa-desa terpencil itu.

Fatma yang merupakan lulusan Insitut Agama Islam Ibrahimy Banyuwangi itu telah mengabdikan diri lebih dari dua tahun di kampung itu. Ia ditempatkan untuk mengajar di SD Negeri 8 Barurejo.

Semenjak Fatma masuk ke SDN 8 Barurejo tersebut, ia melengkapi formasi para pengajar yang berjumlah sembilan sekaligus kepala sekolahnya. Di antara pengajar tersebut, enam orang yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tiga lainnya, termasuk Fatma, termasuk pengajar yang non-PNS.

"Ikut Banyuwangi Mengajar mulai tahun pertama sampai sekarang," kata gadis asal Desa Dasri, Tegalsari itu.

Tak seperti peserta Banyuwangi Mengajar lainnya yang bisa tinggal di rumah warga yang cukup layak. Lantaran di kampung tersebut semua aset milik Perhutani, maka wajar saja jika tidak boleh ada bangunan permanen. Warga di sana hanya boleh membangun rumah dari bilah-bilah kayu dengan beralaskan semen. Hanya bangunan fasilitas umum seperti tempat ibadah dan sarana pendidikan yang diberi keistimewaan untuk dibangun permanen.

Fatma sempat ditawari untuk tinggal di rumah kepala desa, namun dia menolak. Sebab jarak tempat tinggal dengan tempat mengajarnya cukup jauh. Ia lebih mementingkan untuk bisa tinggal berdekatan dengan warga, sesuai dengan konsep Banyuwangi Mengajar.

"Rumah Pak Kades cukup jauh dari kampung tempat saya mengajar. Sementara, konsep Banyuwangi Mengajar kan pengajarnya harus tinggal di lokasi agar bisa terus bertemu warga dan murid-murid. Jadi dengan tidak mengurangi hormat, saya memilih tidak tinggal disana," ujarnya.

Keputusan tegasnya itu membuat Fatma berpikir ulang dan praktis. Kemudian ia berinisiatif untuk tinggal di gedung sekolah. Sebuah ruang perpustakaan seluas 3x4 meter, ia sulap menjadi tempat tinggalnya bersama Hasan, sang suami yang telah menikahinya sekitar setahun belakangan.

"Iya tinggal di perpustakaan ini. Jadi, selain jadi perpustakaan, ya juga jadi kamar saya," tuturnya.

Semua tantangan tersebut tak mengendurkan semangat perempuan tangguh ini. Semua kesulitan ia lewati dan dijadikan sebagai bertahan dan motivasi diri untuk terus mengabdikan diri di Kampung Baung.

Kegigihan itu tak terlepas dari motivasinya saat pertama kali memutuskan mengikuti program Banyuwangi Mengajar tersebut. Ia terdorong panggilan jiwa untuk ikut terlibat dalam proses mencerdaskan anak bangsa.

"Niat awalnya, ya bismillah, saya ingin memanfaatkan ilmu saya untuk ikut mencerdaskan anak-anak," ujar Fatma bersemangat.

Lalu, apa tantangan tersulit selama mengajar di Kampung Baung? Fatma berkata jika yang terberat ialah mengubah pola pikir masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan. Sebab, mayoritas warga yang tinggal di perkampungan hutan pinus ini adalah para perantau yang mengadu nasib menjadi karyawan Perhutani.

Orientasi mereka untuk tinggal dan bertahan hidup di sana ialah, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, kemudian membangun rumah di kampung halamannya. Pola pikir tersebut lalu menjadi 'warisan' yang ditularkan kepada seluruh keturunannya.

"Sehingga kesuksesan bagi mereka bukan diukur dengan capaian pendidikan, akan tetapi terkumpulnya harta. Alhamdulillah, setelah saya berkumpul dengan mereka sekian lama, sedikit demi sedikit paradigma mereka mulai berubah. Bahkan, saya kini merintis pendidikan pra-sekolah. Ada lima anak usia pra-TK yang dititipkan pada saya untuk ikut belajar di sekolah," ungkapnya.

Hasan, suami Fatma, terkadang ikut membantu mengajar jika ada kekosongan guru. Sang suami juga mengajar mengaji anak-anak. Tiap ada keperluan ke kota, Hasan tak lupa mencari buku-buku atau majalah untuk melengkapi koleksi perpustakaan sekolah itu.

Tak hanya pelajar SD itu saja yang datang untuk ikut membaca, namun warga kampung juga ikut membaca.

"Biasanya, setelah mereka bekerja, mereka mampir dan ikut baca-baca," tutur Hasan yang merupakan alumni salah satu pondok pesantren di Genteng ini.

Banyuwangi Mengajar yang digagas Pemkab Banyuwangi merupakan sebuah gerakan yang mengajak lulusan perguruan tinggi untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak pedesaan, khususnya di desa terpencil. Meski fasilitas terbatas, para anak muda ini justru ditantang untuk bisa mengamalkan ilmunya di daerah terpencil.

Banyuwangi Mengajar ini telah diikuti 50 pengajar muda. Mereka yang mayoritas mahasiswa asal Banyuwangi ini ditempatkan di seluruh desa pelosok. Pemkab Banyuwangi menyediakan honor sebesar Rp 2 juta per bulan untuk dedikasi mereka.

"Tahun ini kami rekrut lagi 20 fresh graduate untuk disebar lagi ke berbagai desa," jelas Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiyono. (trw/trw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini