DetikNews
Rabu 13 Juli 2016, 13:26 WIB

Bangsa Kekar Tiang, Pembangun Situs Bidak Catur di Sukabumi dan Gunung Padang

Herianto Batubara - detikNews
Bangsa Kekar Tiang, Pembangun Situs Bidak Catur di Sukabumi dan Gunung Padang Foto: istimewa/ Ali Akbar di situs bidak catur Sukabumi
Jakarta - Penemuan artefak berupa batu mirip bidak catur di Kampung Onclang Kecamatan Ciemas Sukabumi Jawa Barat yang termasuk dalam kawasan Ciletuh Geopark membuka mata akan peradaban bangsa Indonesia. Dan ternyata ada kaitan penemuan batu mirip bidak itu dengan peninggalan di kawasan Gunung Padang.

"Situs Ciletuh atau batu mirip bidak di Sukabumi diperkirakan memiliki kaitan dengan Situs Gunung Padang karena sama-sama merupakan peninggalan megalitik atau batu besar dan berorientasi ke laut. Ada satu lagi persamaannya yang mungkin dapat memberikan gambaran siapa para pembuat peninggalan-peninggalan tersebut," jelas Arkeolog UI Ali Akbar, Rabu (13/7/2016).

Ali yang dikenal lama meneliti Gunung Padang dan juga sudah melihat artefak bidak catur itu yakin kalau kedua situs bersejarah itu buatan manusia.

"Situs Ciletuh yang kadang disebut Situs Batu Bidak atau Anak Catur karena beberapa peninggalannya mirip pion catur terletak dekat dengan lokasi pertambangan emas. Sekitar 8 kilometer dari situs terdapat pertambangan emas yakni di daerah Pasir Manggu. Sungai yang mengalir di dekat situs juga disebut Ciemas sekaligus sepertinya menjadi dasar penamaan kecamatan yakni Kecamatan Ciemas. Dalam bahasa Sunda, ci artinya air atau sungai. Penggunaan istilah emas kemungkinan besar karena memang daerah tersebut dikenal dengan potensi sumber daya emas," urai dia.

Menurut Ali, kondisi di situs bicak catur mirip dengan Situs Gunung Padang. Sekitar 4 kilometer dari Gunung Padang terdapat pertambangan emas Cikondang yang beroperasi sejak penjajahan Belanda sampai sekarang. Hal ini menunjukkan potensi emasnya cukup banyak.

"Jika dilihat lagi kaitan yang lebih luas dengan situs-situs lainnya di sekitar Cianjur dan Sukabumi terdapat situs-situs megalitik yang dekat dengan potensi emas misalnya Situs Sukanagara dan situs-situs di Cisolok. Dari situs-situs tersebut juga dapat melihat laut selatan," ungkap dia.

Ali mengungkapkan, mengingat situs-situs megalitik tersebut berasal dari masa Prasejarah, maka tidak ada tulisan apa pun untuk mengetahui manusia pembuatnya, nama kerajaannya, atau pun nama rajanya.

"Saya pribadi untuk sementara menggunakan istilah Bangsa Kekar Tiang untuk menyebut masyarakat yang membuat peninggalan-peninggalan tersebut. Bangsa ini sedikitnya tersebar di Cianjur, Sukabumi, bahkan Banten. Bangsa ini kerap menggunakan batu kekar tiang (columnar joint) untuk membuat bangunan atau struktur, religius, mampu mengetahui potensi emas dan menggunakannya, dan memiliki relasi dengan laut serta kemampuan untuk berinteraksi lebih luas lagi melalui laut," beber Ali.

"Jika pada masa modern ini ingin berkunjung ke situs-situs tersebut, akan mengalami kesulitan karena umumnya ditempuh dari utara melalui perbukitan yang menanjak dan berkelok, maka nenek moyang kita tampaknya justru menggunakan akses selatan melalui lautan. Situs-situs megalitik lebih mudah diakses melalui laut selatan," tambah dia lagi.


(dra/dra)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed