1,5% Warga RI Pakai Narkoba, Ganja Paling Laris
Rabu, 23 Mar 2005 17:35 WIB
Medan - Ganja merupakan jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Tumbuhan endemik yang mudah ditemui di Nanggroe Aceh Darussalam tersebut merupakan yang paling murah di antara narkoba lain. Ganja turut andil meningkatkan jumlah pecandu narkotika di Indonesia.Setelah ganja, heroin berada di urutan kedua. Narkoba jenis ini relatif berharga mahal sehingga tidak banyak yang mengonsumsinya. Terakhir, kokain. "Kedua narkoba ini merupakan produk impor sehingga harganya mahal, kata Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Sutanto di Belawan, Medan, Rabu (23/3/2005).Menurut Sutanto, hasil penelitian terhadap 13 ribu responden, sebagian besar merupakan pemakai narkoba jenis ganja. Sementara jumlah pemaikai narkotika didalam negeri cenderung mingkat dari waktu ke waktu.Penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan jumlah pecandu narkotika dan obat terlarang (narkoba) di Indonesia mencapai 1,5 persen dari jumlah penduduk yang ada. Saat ini jumlahnya sekitar 2,9 juta - 3,2 juta orang."Jumlah ini tentu saja mengkhawatirkan. Karena itu seluruh elemen masyarakat dan instansi terkait harus bekerjasama untuk mencegah peredaran narkoba," kata Sutanto.Untuk memutus rantai maraknya impor narkoba dan mencegah Indonesia dijadikan kawasan transit atau malah sebagai daerah perdagangan narkoba, BNN membentuk Satuan Tugas (Satgas) Sea Port Interdiction. Saat ini, sudah ada sekitar 8 satgas yang bertanggung jawab mencegah keluar masuknya narkoba antarnegara danantarprovinsi di Indonesia lewat pelabuhan laut.Indonesia memiliki sedikitnya 137 pelabuhan laut yang 39 di antaranya memiliki akses yang sangat terbuka dengan luar negeri. Kemudian, sekitar 16 bandar udaradi Indonesia juga harus mendapat pengawasan ketat karena sering dipakai oleh jaringan pengedar narkoba.Saat ini, kata Sutanto, banyak penyaluran narkoba yang lewat Medan untuk selanjutnya ke Jakarta. Selain menjadi lokasi transit, ternyata Medan juga telahmenjadi daerah pemasaran sehingga polisi harus berupaya keras memutus jalur distribusinya.Direktur Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara Kombes Nixon Manurung dalam kesempatan yang sama menyatakan, Polda Sumut masih kekurangan peralatan untukmendeteksi jenis narkoba secara cepat. Sebanyak 10 peralatan pemindai narkoba yang diberikan BNN kepada Polda Sumut, telah dibagikan seluruhnya ke kepolisian-kepolisian resor di kabupaten-kabupaten di Sumut. Polda Sumut mengharapkan BNN dapat membantu 26 unit lagi alat yang sama.
(nrl/)











































